TOBOALI, KABARBABEL.COM – Mimpi untuk menjadikan Bangka Selatan (Basel) swasembada beras bahkan sebagai lumbung pangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) yang terus digencarkan pemerintah agak sedikit terhambat lantaran faktor pencemaran irigasi, Selasa (6/12).

Untuk itu, Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi Bangka Belitung (Babel) Direktorat Jenderal Sumber Daya Alam (Ditjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) meminta pemkab segera mengambil langkah tegas. Sebab pencemaran ini diduga karena aktivitas tambang.

“Kami akan kerja sama dengan pihak di kabupaten karena ini kewenangan mereka untuk memberikan teguran dan juga penertiban (tambang). Karena kita tidak bisa begerak sendiri karena yang berhak untuk melakukan penertiban ini pihak pemda yang paling utama,” ujar Kepala BWS Babel Panca Hermawan.

“Terutama Satpol PP dan kepolisian di sini. Memang ini harus diambil langkah tegas karena biasanya terulang terus, harus rutin sehingga aktivitas tambang ilegal ini bisa dikurangi dan lahan-lahan di atas bisa terjaga dengan baik karena akan ganggu irigasi, sendimentasi ini bahaya dan pencemarannya,” sebutnya.

Sebelumnya, sejumlah petani di Desa Rias Kecamatan Toboali mengeluhkan keruhnya air dari sumber irigasi yang masuk ke areal persawahan. Diduga air keruh persawahan tersebut berasal dari aktivitas pertambangan timah ilegal. Baik dari kawasan sawah itu sendiri maupun dari arah hulu.

Hal ini disampaikan langsung Tahang, salah seorang petani di Desa Rias saat dikonfirmasi, Senin (5/12). Tahang nilai keruhnya air yang tercemar tersebut diduga berasal dari arah hulu Sungai Pumpung selain di sejumlah titik yang tersebar di areal persawahan petani di Desa Rias.

“Sepertinya dari arah atas ada aktivitas pertambangan mungkin, di hulu sungai Pumpung. Memang pengaruhnya belum karena kita belum nanam, tetapi kalau sudah memasuki musim tanam nanti akan berpengaruh,” ujar Tahang kepada sejumlah wartawan.

Menurut Tahang, pertumbuhan padi tak akan maksimal apabila air sawah keruh meskipun sudah dilakukan pemupukan oleh petani. Untuk itu dirinya berharap pemerintah dapat segera mengambil sikap sehingga air irigasi dari pelbagai sumber dapat kembali jernih.

“Harapan petani secara keseluruhan itu kita minta saat musim tanam nanti, sumber air yang sudah dibangun oleh pemerintah seperti Mentukul, Pumpung dan Embung Yamin terhindar dari pada pencemaran,” sebut pria yang pernah menjabat Kades Rias dua periode itu.(dev)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *