Sungailiat – Pusat Pelindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian, Kementerian Pertanian RI menggelar forum konsultasi publik yang mengangkat kisah sukses pelepasan varietas padi lokal dari Kabupaten Bangka, Rabu (1/4/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) Ciawi, Bogor ini juga menjadi ajang sosialisasi pendaftaran dan pelepasan varietas tanaman melalui sistem SIPERINTIS.

Kegiatan ini diikuti hampir 400 peserta dari seluruh Indonesia yang berpartisipasi secara daring dan luring, meliputi Dinas Pertanian kabupaten, perguruan tinggi, serta pihak swasta.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka, Syarli Nopriansyah, yang hadir sebagai narasumber utama, menegaskan bahwa pelepasan varietas padi lokal merupakan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi daerah.

Dalam paparannya, Syarli mengungkapkan bahwa Kabupaten Bangka telah berhasil melepas tujuh varietas padi lokal, yakni Raden, Mayang Pasir, Damel, Runteh, Balok, Pulut Merah, dan Mayang Pandan.

“Varietas ini merupakan hasil identifikasi dan pelestarian plasma nutfah lokal yang selama ini telah dibudidayakan petani. Pelepasan ini penting agar benih memiliki legalitas dan dapat dikembangkan lebih luas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, langkah tersebut dilatarbelakangi berbagai persoalan di lapangan, seperti belum tersedianya benih unggul lokal yang resmi dilepas, serta karakteristik lahan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang membutuhkan varietas adaptif.

Menurutnya, petani di Bangka cenderung memilih padi lokal karena lebih sesuai dengan kondisi tanah setempat. Selain itu, varietas tersebut dapat ditanam di lahan dengan keterbatasan irigasi maupun melalui sistem tumpangsari dengan tanaman perkebunan.

“Padi lokal ini memiliki keunggulan dalam hal adaptasi. Bahkan bisa ditanam di lahan non-irigasi dan dikombinasikan dengan komoditas lain,” jelasnya.

Komitmen Pemerintah Daerah

Keberhasilan pelepasan varietas ini tidak terlepas dari komitmen Pemerintah Kabupaten Bangka yang memasukkan program tersebut ke dalam rencana strategis (Renstra) dan rencana kerja (Renja), meskipun dihadapkan pada keterbatasan anggaran.

Kolaborasi lintas sektor juga menjadi faktor penting, melibatkan lembaga penelitian, pemerintah provinsi, serta para petani.
“Kami tetap menjalankan kegiatan ini dengan semangat kolaborasi dan kerja tim yang solid,” kata Syarli.

Potensi Pengembangan Besar

Dari sisi pengembangan, padi lokal Bangka memiliki potensi yang cukup besar. Untuk memenuhi kebutuhan tanam seluas sekitar 5.700 hektare, diperlukan sedikitnya 228 ton benih.

Syarli berharap, pelepasan varietas ini dapat menjamin distribusi benih lokal sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian di daerah.

“Kami ingin petani tidak lagi bergantung pada benih dari luar, tetapi mampu mandiri dengan varietas lokal yang sudah terbukti cocok,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *