Laporan: Hairul | Bangka
Tidak semua aroma mampu membawa seseorang pulang pada kenangan. Namun, ketika musim durian tiba di Bangka, semerbak wanginya seolah menjadi bahasa yang tak memerlukan kata-kata. Ia memanggil para perantau untuk mengingat kampung halaman, mengundang para pencinta durian untuk kembali berburu rasa, sekaligus menghidupkan denyut ekonomi masyarakat dari kebun-kebun yang tersebar di berbagai penjuru pulau.
Di bawah rindangnya pepohonan, para petani memungut buah yang baru saja jatuh. Satu per satu diperiksa, dipilih, lalu dibersihkan dengan teliti. Dahulu, perjalanan durian mungkin hanya berakhir di pasar tradisional atau di halaman rumah pembeli yang datang langsung ke kebun. Kini, dengan label pengiriman yang menempel di kemasannya, durian Bangka mampu menempuh ratusan kilometer, melintasi lautan, hingga tiba di meja makan para penikmatnya di berbagai kota di Indonesia.
Di balik perjalanan itu tersimpan lebih dari sekadar perpindahan barang. Ada kerja keras petani yang menunggu musim panen berbulan-bulan, ada semangat pelaku usaha lokal yang terus menjaga kualitas, dan ada peran logistik yang menjembatani jarak sehingga cita rasa khas Bangka dapat dinikmati tanpa harus menginjakkan kaki di pulau ini.
Di antara mata rantai itu, hadir PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) sebagai penghubung yang memastikan setiap kiriman tiba dengan cepat dan aman. Pimpinan JNE Cabang Sungailiat, Bangka Rahmat Junisalesa, mengatakan pihaknya siap melayani pengiriman durian Bangka ke berbagai daerah, khususnya Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), hingga Bandung melalui layanan cepat. “Pelanggan yang ingin mengirimkan durian Bangka ke Jabodetabek dan Bandung bisa menggunakan layanan kami. Sampai di hari yang sama,” ujarnya saat ditemui di Bazar Durian Taman Kota Sungailiat Bangka, Rabu malam (10/6).
Untuk pengiriman ke Jakarta, ongkos kirim dikenakan tarif Rp26.000 per kilogram, sedangkan wilayah Jabodetabek sebesar Rp31.000 per kilogram. Antusiasme masyarakat, menurut Rahmat, sangat tinggi, terutama untuk pengiriman varietas durian unggulan Bangka seperti Cumasi dan Super Tembaga.
Rahmat juga membagikan tips bagi pelanggan yang ingin mengirimkan durian ke luar kota. Menurutnya, pengiriman dalam bentuk durian kupas lebih disarankan karena lebih efisien dan meminimalkan risiko kerusakan selama perjalanan. Meski demikian, JNE tetap melayani pengiriman satu durian utuh, dengan penanganan dan pengemasan yang disesuaikan agar kiriman tetap aman hingga sampai ke tujuan. “Melepaskan daging buah dari kulit untuk menghemat ruang dan mengurangi risiko kerusakan fisik selama pengiriman. Gunakan wadah kedap udara,” ingat Rahmat.
Rahmat juga mengingatkan agar wadah yang digunakan dalam kondisi baik, tidak retak maupun bocor. Setelah daging durian dimasukkan ke dalam wadah, seluruh permukaannya sebaiknya disegel menggunakan plastik wrap atau beberapa lapis bungkus plastik untuk mencegah aroma menyebar selama proses pengiriman. Celah pada penutup wadah pun perlu direkatkan dengan lakban yang kuat agar tetap rapat.
Selanjutnya, wadah tersebut dimasukkan ke dalam kotak styrofoam dan diberi bahan peredam, seperti koran bekas, agar tidak mudah bergeser selama perjalanan. Untuk menjaga kesegaran, tambahkan ice gel yang telah dibekukan sehingga suhu di dalam kemasan tetap stabil dan kualitas daging durian tetap terjaga hingga tiba di tujuan. Sebagai langkah akhir, kotak styrofoam ditutup rapat dan direkatkan menggunakan lakban, kemudian diberi label atau stiker khusus yang menandakan isinya merupakan makanan mudah rusak. Dengan pengemasan yang tepat, risiko kerusakan dapat diminimalkan sehingga durian tetap tiba dalam kondisi baik di tangan penerima.

Meski demikian, Rahmat memastikan pihaknya juga siap membantu apabila ada pelanggan yang kesulitan dalam mengirimkan durian. Bahkan, JNE juga membuka tenda layanan langsung di area bazar. Pengunjung dapat mengemas durian di lokasi menggunakan styrofoam sesuai standar keamanan pengiriman udara, sebelum kemudian ditangani oleh tim JNE hingga tiba di tangan penerima. Kolaborasi itu menjadi bukti bahwa logistik bukan hanya soal memindahkan barang, tetapi juga membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk unggulan daerah.
Salah satunya, di tengah tumpukan styrofoam dan gulungan lakban, seorang petugas dengan cekatan membantu seorang pelanggan mengemas durian yang baru dibelinya. Setelah memastikan kemasan rapat dan ice gel tersusun sempurna, ia menempelkan label tujuan: Jakarta.
Di sampingnya, sang pengirim Resty Delliani memandangi paket itu beberapa saat sebelum tersenyum kecil. “Anak saya sudah lima tahun kerja di sana. Setiap musim durian selalu titip dikirimkan,” katanya pelan. Mungkin bagi orang lain itu hanya sebuah kiriman buah. Namun bagi keluarga itu, paket tersebut adalah penawar rindu, membawa aroma tanah kelahiran yang tak pernah benar-benar bisa tergantikan.
Bupati Bangka Fery Insani mengapresiasi apa yang dilakukan JNE. Menurut Fery, dengan kerjasama ini bisa memperkenalkan durian local Bangka ke luar daerah. “Selama ini mungkin orang hanya melihat di media atau medsos tentang durian Bangka. Nah, dengan adanya JNE kini bisa langsung merasakan bagaimana enaknya durian Bangka. Saya rasa ini luar biasa,” kata Fery.
Harapan serupa disampaikan Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Bangka Ismir Rachmadinianto. Menurutnya, kerja sama dengan JNE bertujuan memperkenalkan durian lokal Bangka kepada masyarakat luar daerah. “Harapan kami durian lokal Bangka tidak hanya dinikmati masyarakat di sini, tetapi juga dikenal dan dinikmati masyarakat di luar daerah. Dengan dukungan JNE, durian bisa sampai ke Jakarta dan sekitarnya hanya dalam sehari,” katanya.
Cumasi, Primadona dari Tanah Bangka
Di antara berbagai varietas yang tumbuh di Bangka, Cumasi menjadi salah satu yang paling banyak diburu oleh pelanggan. Daging buah yang tebal dengan warna kuning muda, sementara aromanya yang sangat kuat mampu mendominasi deretan durian lain di sekitarnya.
Bara, salah satu petani sekaligus pedagang durian dari Desa Mesu, Pangkalan Baru, Bangka Tengah, mengatakan harga Cumasi tetap tinggi karena kualitas dan permintaannya yang terus meningkat. “Saat panen sekarang harganya bisa mencapai Rp250 ribu per kilogram. Kalau panen sela, harganya bisa lebih mahal lagi,” ujarnya, Sabtu (13/6).
Nama Cumasi sendiri berasal dari bahasa Hakka yang berarti “kotoran babi betina”. Sebutan itu muncul karena pohon indukan pertamanya dipercaya tumbuh di dekat kandang babi milik seorang warga bernama Namlung di wilayah Parittiga, Jebus, Bangka Barat. Sejak sekitar tahun 1990-an, varietas tersebut berkembang menjadi salah satu ikon durian Bangka.
Kini Bara tak hanya berdagang, tetapi juga membudidayakan Cumasi di kebunnya sendiri. Ketika pasokan kurang, ia mengambil buah dari petani lain di Bangka Tengah dan Bangka Barat demi memenuhi tingginya permintaan pasar. “Untuk memenuhi permintaan durian di luar pulau Bangka biasanya kita mengirimkannya lewat JNE. Hampir setiap bulan saya menerima pesanan ini apalagi saat musim durian Cumasi sudah tiba,” kata Bara.
Berbeda dengan rekomendasi JNE yang menyarankan pengiriman dalam bentuk kupasan demi efisiensi ruang dan keamanan produk, sebagian pelaku usaha memiliki cara tersendiri berdasarkan pengalaman mereka di lapangan. Selama bertahun-tahun kata Bara, pihaknya lebih sering mengirimkan durian dalam kondisi utuh dengan teknik pengemasan yang telah teruji. Menurutnya, kunci utama bukan terletak pada bentuk buahnya, melainkan pada kualitas pengemasan yang padat dan aman sehingga durian tetap terlindungi selama perjalanan menuju tangan pelanggan.

Bara mengirimkan durian utuh. Artinya masih lengkap dengan kulit. Biasanya packing dilakukan dengan kardus atau styrofoam. “Untuk pengiriman durian itu harus padat, tidak goyang-goyang. Bisa gunakan kardus atau styrofoam, aman kok. Kita sudah biasa mengirimkan durian ke luar Bangka Belitung. Di dalam styrofoam biasa kita tambahkan ice gel untuk menjaga suhu tetap sama,” ucapnya.
Bara membenarkan varietas ini merupakan aset ekonomi yang sangat berharga. “Cumasi dan Super Tembaga adalah dua durian unggulan yang berasal dari Bangka Belitung. Ini adalah potensi besar yang harus terus dikembangkan,” katanya.
Menurut Bara, budidaya Cumasi membutuhkan perhatian khusus terhadap kondisi tanah dan ketersediaan air. Tanah yang cenderung asam perlu diberi dolomit atau abu pembakaran kayu agar tingkat keasamannya sesuai untuk pertumbuhan optimal. Ia juga mengingatkan pentingnya kecukupan air bagi tanaman durian. “No water, no durian,” ujarnya singkat.
Selain pengairan, pemangkasan cabang dan tandan juga diperlukan agar nutrisi dapat terserap maksimal sehingga menghasilkan buah berkualitas tinggi. Kini bibit Cumasi telah diperbanyak melalui okulasi dan sambung batang, bahkan mulai ditanam di berbagai daerah lain seperti Bogor dan Kalimantan. Namun, jejak asal-usulnya tetap melekat kuat di Bangka.
Pada akhirnya, setiap paket durian yang meninggalkan Pulau Bangka membawa lebih dari sekadar buah berduri dengan rasa manis yang khas. Di dalamnya ikut terbawa harapan para petani, kegigihan para pelaku usaha, dan cerita tentang sebuah daerah yang ingin dikenal melalui hasil bumi terbaiknya. Di titik itulah peran logistik menemukan maknanya yang paling nyata. Bukan semata memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain, melainkan menghubungkan manusia, membuka akses pasar, dan mempertemukan hasil kerja keras di kebun dengan senyum pelanggan di kota yang berbeda.
Dari pohon hingga sampai ke tangan pelanggan, perjalanan durian Bangka adalah kisah tentang konektivitas yang mengubah potensi lokal menjadi kebanggaan nasional. Ketika satu paket tiba tepat waktu dan aroma khasnya menyeruak dari dalam kemasan, sesungguhnya yang sampai bukan hanya buah durian, melainkan juga sepotong cerita dari Tanah Bangka—cerita tentang kualitas, kepercayaan, dan perjalanan yang dijaga hingga tujuan akhirnya oleh JNE.

