Pagi buta. Emak-emak begaduh ribut siapa yang bakal dicoblos di pemilihan kepala daerah nanti. Seperti biasa setiap pagi mereka mengerumuni pedagang sayur keliling. Sembari memilih sayur, ngobrol ngalor ngidul bekisah calon bupati yang mau maju.
Ramai suara emak-emak, bising memecah sepinya pagi, sesepi calon bupati.
Lho memangnya tidak ada ya, calon yang mau maju? Ya lihat sendiri sunyi dan tidak terlihat baleho, umbul-umbul dan bendera partai menawarkan calon yang bakal diusung maupun didukung. Kita juga tidak tahu, jadi atau tidak pesta lima tahun sekali, memilih pemimpin daerah di Kabupaten Bangka ini? Entah ya? Lho gimana to? Entar dulu dan jangan membuat narasi yang tidak mendukung pilkada? Gimana mau mendukung, kalau pihak penyelenggara dan pengawas saja ribut sendiri.
Ada semacam ketidaksingkronan dalam berkomunikasi dan akhirnya terjadi kekisruhan. Itu Pileg! Bukan Pilkada? Makanya harus diantisipasi, agar dalam pesta demokrasi memilih kepala daerah nanti, tidak semakin parah kisruhnya. Jangan sampai masuk angin?
Buntutnya unjuk rasa? Salah mas bro? Yang benar unjuk duit? Kalau unjuk duit enak, bisa untuk beli apapun. Tapi kalau unjuk rasa, kan hanya dirasakan. Rasa pahit, manis, sakit hati dan rasa tidak percaya diri. Akhirnya dalam mengambil keputusan tidak ada rasa hati. Yang penting dapat duit? Keliru mas bro? Unjuk rasa itu juga dapat bayaran? Ada uang bensinnya juga diberi nasi bungkus.
Waduh!! Begitu to? Padahal rakyat sudah didatangi petugas penyelenggara didata, tapi mana calon yang bakal dipilih belum ada. Sungguh tidak ada gaung, greget jelang pemilihan kepala daerah dan situasinya adem-adem saja. Mungkin kendaraan-kendaraan mesin partai belum bergerak? Belum bergerak atau memang mesinnya rusak? Atau tidak ada yang menggerakan? Nah, persoalannya komplek.
Bisa juga pemilik partai masih saling mengintip antara partai yang satu dengan partai yang lain. Kemudian tidak semua kekuatan partai sama dan juga tidak semua partai memiliki jago yang handal untuk bertarung di pilkada. Sementara kader-kader partai berebut maju hanya mau jadi pendamping dan celakanya, tidak memiliki modal.
Wait! Memangnya mau berdagang harus punya modal? La…iyalah! Partai harus hitung-hitungan untung rugi mengusung calon atau hanya mendukung calon. Sebentar mas bro. Berarti harus menjual partai, kalau tidak punya calon? Iya…mau tidak mau dan suka tidak suka begitu ceritanya. Tentunya calon pun harus membeli kendaraan partai. Sudah tahu kan, begitu pentingnya modal itu untuk maju dalam berebut memimpin Bangka.
Kalau tidak memiliki modal? Berarti tidak ada yang maju? Tidak juga, masih banyak yang ingin mendampingi calon nomor satu. Ada Si Poltak? Ada Juragan Empang?Ada Bos Kardus? Mereka ini orang-orang hebat yang minimal bisa jadi calon pendamping calon bupati memimpin daerah ini. Bukan itu yang dipersoalkan, tapi calon bupatinya? Iya..ya? Kok sepertinya hanya petahana saja yang seru dibicarakan dan lawannya belum jelas? Maksudnya? Belum muncul calon sekuat petahana? Inilah yang menjadi pokok persoalan. Sungguh sunyi langkah calon bupati, sesunyi calon bupati yang pasti. (Heru Sudrajat)
