Verdiansah
Prodi:Manajemen
Jurusan:Manajemen dan Bisnis
Universitas Bangka Belitung

Saat ini, media sosial memiliki dampak yang signifikan pada hampir setiap aspek kehidupan kita. Sebagian besar dari kita, baik sengaja maupun tidak sengaja, terus-menerus menggulir perangkat kita sejak bangun tidur hingga tidur, menonton, berbagi, dan membandingkan. Media sosial telah berkembang menjadi komponen identitas sosial generasi muda, yang berfungsi lebih dari sekadar saluran komunikasi. Namun, terlepas dari semua kesenangan dan kemudahan yang diberikannya, kita harus mempertimbangkan apakah media sosial benar-benar menciptakan generasi yang sehat mental atau sebaliknya.

Kecenderungan yang mengkhawatirkan yaitu semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial, semakin besar pula risiko munculnya gangguan kesehatan mental. Kecemasan, depresi, dan rasa terisolasi kini banyak dikaitkan dengan dunia digital yang terlihat “sempurna”. Remaja sangat rentan terperangkap dalam pusaran ini karena mereka sedang menjalani fase pencarian identitas. Harga diri menjadi rapuh dan rentan runtuh hanya karena konten tidak menerima respons yang diharapkan saat validasi diri didasarkan pada jumlah “suka” atau pengikut.

Lebih memprihatinkan, standar “kesempurnaan” yang dibentuk oleh filter, algoritma, dan budaya viral menciptakan ekspektasi yang tidak realistis. Remaja merasa gagal hanya karena tidak tampil seperti influencer yang mereka ikuti. Akibatnya, banyak dari mereka menghadapi gangguan citra diri, rasa tidak percaya diri, hingga tekanan mental yang serius. Ini adalah persoalan nyata yang tak boleh diabaikan.

Sebaliknya, tidak adil jika kita hanya melihat media sosial sebagai “musuh”. Media sosial juga memungkinkan solidaritas, inklusi, dan komunikasi cepat. Banyak orang menemukan komunitas yang memahami kesulitan hidup mereka dan memberikan dukungan emosional yang tidak dapat mereka dapatkan di dunia nyata. Media sosial memberi panggung bagi suara-suara yang selama ini terpinggirkan, serta membuka peluang untuk kolaborasi, pendidikan, dan pengembangan diri secara mandiri. Jika digunakan dengan bijak, media sosial dapat menjadi ruang yang positif untuk tumbuh dan berkembang.

Karena itu, bukan pelarangan atau penghindaran yang kita butuhkan, tetapi budaya digital yang sehat. Pendidikan literasi digital harus dimulai sejak dini. Anak-anak harus dilatih dalam berpikir kritis tentang konten digital. Untuk menciptakan lingkungan media sosial yang lebih aman dan mendukung kesehatan mental, masyarakat sebagai pengguna aktif, pendidik, dan bahkan pembuat kebijakan harus bekerja sama. Detoks digital harus menjadi gaya hidup, bukan hanya tren sesaat.

Orang tua juga memiliki peran penting bukan hanya sebagai pengawas tetapi juga sebagai rekan diskusi yang membantu anak memahami dunia digital. Kesehatan mental dan etika bermedia harus menjadi komponen kurikulum yang relevan dan relevan bagi guru dan lembaga pendidikan. Negara harus menetapkan regulasi di tingkat kebijakan yang mendorong tanggung jawab platform terhadap dampak psikologis dari algoritma dan desain aplikasinya.

Penyedia platform juga memiliki tanggung jawab yang signifikan. Mereka tidak dapat menyembunyikan diri di balik algoritma yang hanya mengejar keterlibatan pengguna tanpa mempertimbangkan efeknya. Sudah saatnya mereka membantu menjaga kesejahteraan mental penggunanya.

Kita tidak dapat terus menyalahkan media sosial di tengah kemajuan teknologi yang tak terhentikan. Tanggung jawab sebenarnya ada pada kita sebagai penggunanya. Kita harus belajar menggunakan alat ini secara cerdas, sadar, dan penuh tanggung jawab. Karena pada akhirnya, media sosial adalah pisau bermata dua yang kini berada di tangan kita sendiri. Apakah kita akan menggunakannya untuk memperbaiki atau justru merusak diri kita sendiri?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *