Rahmat Supriyadi
Prodi Manajemen UBB
Di tengah maraknya gaya hidup konsumtif yang ditampilkan di media sosial, masih banyak anak muda yang belum menyadari pentingnya investasi. Padahal, usia muda adalah saat paling strategis untuk membangun kebebasan finansial di masa depan. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (2024), tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 65,43%, sementara inklusi keuangan mencapai 75,18%. Artinya, sebagian besar masyarakat sudah memiliki akses ke layanan keuangan, tetapi belum memahami cara memanfaatkannya secara optimal.
Fakta tersebut menunjukkan adanya kesenjangan yang serius antara akses dan pemahaman. Anak muda, meskipun merupakan pengguna aktif platform digital dan teknologi finansial, tetap rentan terjebak dalam pola pengelolaan uang yang reaktif. Berdasarkan Katadata Insight Center (2023), indeks literasi keuangan Indonesia memang meningkat menjadi 69,7 poin dari 66,5 pada 2020. Namun, peningkatan ini tidak serta-merta diiringi dengan perilaku keuangan yang sehat, seperti berinvestasi secara disiplin.
Menurut Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) 2021-2025 oleh OJK, peningkatan literasi keuangan perlu disertai dengan perubahan perilaku yang nyata melalui edukasi yang terintegrasi sejak dini. Sayangnya, sistem pendidikan nasional belum mengarusutamakan pengelolaan keuangan pribadi atau investasi dalam kurikulum umum. Akibatnya, banyak lulusan perguruan tinggi yang secara akademik cerdas, tetapi rapuh dalam merencanakan masa depan keuangannya.
Di sisi lain, data dari OJK (2024) juga menyoroti bahwa investasi masih belum menjadi kebiasaan finansial utama di kalangan muda. Banyak yang masih menganggap investasi hanya dapat dilakukan jika sudah memiliki penghasilan besar. Padahal, konsep compound interest atau bunga berbunga justru bekerja paling efektif jika dimulai sedini mungkin, bahkan dengan jumlah kecil secara konsisten.
Budaya konsumtif yang diperkuat oleh dorongan media sosial sering kali menjadi penghalang utama. Keinginan untuk tampil dan mengikuti tren konsumsi membuat anak muda lebih memilih membeli barang-barang gaya hidup ketimbang menyisihkan dana untuk masa depan. Hal ini menunjukkan pentingnya membangun budaya finansial yang sehat, bukan hanya melalui teknologi, tetapi juga perubahan pola pikir.
Investasi bukan semata aktivitas ekonomi, tetapi bentuk kemandirian dan pemberdayaan pribadi. Anak muda yang memahami dan mempraktikkan investasi sejak dini sedang membangun masa depan yang lebih bebas dari tekanan finansial. Mereka tidak hanya bekerja untuk hidup, tetapi menata hidup agar dapat memilih jalan hidup secara merdeka. Maka, sudah saatnya investasi dipandang sebagai kebutuhan, bukan kemewahan.
