Oplus_16908288

Oleh :Yusnita, S.IP., M.AP
Tendik SD S Gajah Mada Sungailiat

Perkembangan teknologi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, kehadiran Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu inovasi yang paling banyak diperbincangkan. AI kini mampu membantu berbagai aktivitas manusia, mulai dari mengolah data, menghasilkan teks, membuat gambar, hingga menyusun presentasi dalam hitungan menit. Tidak sedikit yang kemudian bertanya, apakah AI akan menggantikan guru? Jawabannya adalah tidak.

Sejak dahulu, Ki Hadjar Dewantara memandang pendidikan sebagai proses menuntun segala potensi anak agar tumbuh menjadi manusia yang selamat dan bahagia. Filosofi tersebut masih sangat relevan hingga saat ini. Pendidikan bukan hanya tentang menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan nilai, serta membimbing murid agar mampu menghadapi tantangan zaman. Peran tersebut tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.

AI memang memiliki kemampuan menghasilkan informasi dengan cepat. Guru dapat memanfaatkannya untuk menyusun modul ajar, membuat media pembelajaran, merancang asesmen, hingga membantu pekerjaan administrasi sekolah. Berbagai tugas yang sebelumnya memerlukan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan lebih efisien. Namun, AI hanyalah alat bantu. Keputusan akhir tetap berada di tangan guru sebagai pendidik.

UNESCO melalui Guidance for Generative AI in Education and Research (2023) menegaskan bahwa pemanfaatan AI harus berpusat pada manusia (human-centred approach). Demikian pula OECD menyatakan bahwa keberhasilan penggunaan AI dalam pendidikan sangat bergantung pada kemampuan guru mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam proses pembelajaran. Artinya, teknologi tidak menggantikan guru, melainkan memperkuat profesionalismenya.

Dalam praktiknya, AI dapat menjadi mitra guru pada setiap tahap pembelajaran. Saat merencanakan pembelajaran, AI dapat membantu menyusun tujuan pembelajaran, membuat modul ajar, atau menghasilkan variasi soal. Pada tahap pelaksanaan, AI dapat digunakan untuk membuat media pembelajaran yang lebih menarik berupa presentasi, ilustrasi, infografis, video, maupun animasi. Sementara pada tahap evaluasi, AI membantu menganalisis hasil belajar sehingga guru lebih mudah menentukan tindak lanjut pembelajaran.

Berbagai aplikasi berbasis AI kini semakin mudah diakses. Canva AI membantu guru membuat media pembelajaran visual yang menarik. Dreamina AI dapat menghasilkan ilustrasi sesuai materi yang diajarkan. Napkin AI mengubah ide menjadi infografis yang lebih mudah dipahami, sedangkan Suno AI mampu menciptakan lagu edukatif atau media pembelajaran berbasis audio.

Dengan memanfaatkan berbagai aplikasi tersebut, guru memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan murid dibandingkan menghabiskan waktu menyusun materi secara manual.
Namun demikian, hasil yang diberikan AI tetap memerlukan verifikasi. AI tidak memahami kondisi nyata di dalam kelas.

AI tidak mengenal karakter setiap murid, tidak mengetahui siapa yang membutuhkan perhatian lebih, dan tidak mampu membangun hubungan emosional sebagaimana yang dilakukan seorang guru.
Empati, keteladanan, intuisi pedagogis, serta kemampuan memotivasi murid merupakan kualitas manusiawi yang tidak dimiliki oleh teknologi. Inilah alasan mengapa peran guru tetap menjadi pusat dalam pendidikan.

Kesadaran akan pentingnya literasi AI juga mendorong berbagai pihak menyelenggarakan pelatihan bagi guru. Salah satunya adalah Program AI Goes To School (AIGTS) yang diselenggarakan oleh MAFINDO melalui MAFINDO Institute. Program ini memberikan kesempatan kepada guru untuk mempelajari pemanfaatan AI secara etis, kreatif, dan bertanggung jawab dalam mendukung pembelajaran.

Penulis berkesempatan terlibat sebagai operator dalam pelaksanaan Kelas Kecerdasan Artifisial Online MAFINDO Bangka Belitung yang diikuti sekitar 130 guru SD dan SMP di Kota Pangkalpinang. Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata bahwa antusiasme guru terhadap AI sangat tinggi. Kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan guru perlahan berubah menjadi semangat untuk belajar memanfaatkan teknologi sebagai pendukung pembelajaran.

Peserta tidak hanya dikenalkan pada berbagai aplikasi AI, tetapi juga belajar menyusun prompt yang efektif agar hasil yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Diskusi yang berkembang pun tidak lagi berfokus pada pertanyaan apakah AI akan menggantikan guru, melainkan bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif, efektif, dan bermakna.

Sebagai tenaga kependidikan, penulis juga merasakan manfaat AI dalam mendukung pekerjaan administrasi sekolah. AI membantu menyusun surat, laporan, proposal, notulen rapat, hingga mengolah berbagai dokumen dengan lebih cepat. Di sisi lain, guru mulai memanfaatkan AI untuk menyusun perangkat ajar, membuat media pembelajaran, serta memperoleh inspirasi dalam merancang aktivitas belajar yang berpusat pada murid.

Meski demikian, seluruh hasil tetap memerlukan penyuntingan dan penyesuaian agar sesuai dengan kebutuhan nyata di sekolah.
Pada akhirnya, kehadiran AI bukanlah ancaman bagi profesi guru. Justru sebaliknya, AI menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan apabila dimanfaatkan secara bijaksana. Guru tetap memegang peran utama sebagai pendidik yang membimbing, menginspirasi, menanamkan karakter, serta membangun nilai-nilai kemanusiaan kepada murid.

Teknologi akan terus berkembang, tetapi pendidikan tetap membutuhkan sentuhan manusia. Masa depan pendidikan bukan ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki, melainkan oleh seberapa bijaksana guru memanfaatkannya. Ketika guru mampu berkolaborasi dengan AI tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan, pembelajaran akan menjadi lebih inovatif, efektif, dan berkualitas. Karena pada hakikatnya, AI bukan pengganti guru, melainkan mitra guru dalam mendukung pembelajaran yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *