Lutfi Aksah
Prodi Manajemen UBB
Perkembangan teknologi dan komunikasi di era modern membawa dampak signifikan terhadap cara manusia berinteraksi, termasuk dalam penggunaan bahasa. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan budaya dan identitas sosial.
Salah satu fenomena menarik yang muncul adalah keberadaan bahasa gaul yang kian berkembang di kalangan masyarakat, terutama generasi muda, dan berdampingan dengan bahasa baku yang selama ini digunakan dalam konteks formal. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menemukan keseimbangan antara penggunaan bahasa gaul dan bahasa baku agar komunikasi dapat berlangsung efektif dan tepat sasaran.
Bahasa gaul sering kali dianggap sebagai bentuk ekspresi kreativitas dan kedekatan sosial antar individu, khususnya di kalangan remaja dan mahasiswa. Penggunaan bahasa gaul yang informal dan dinamis memungkinkan terciptanya suasana percakapan yang lebih akrab dan santai. Contohnya, istilah-istilah seperti “baper,” “santai,” atau “mager” sudah menjadi bagian dari keseharian komunikasi di lingkungan pergaulan. Namun, penggunaan bahasa gaul yang tidak terkontrol dapat menimbulkan kesalahpahaman apabila digunakan di lingkungan yang memerlukan formalitas dan kejelasan, seperti dalam dunia akademik, profesional, atau administrasi resmi.
Sebaliknya, bahasa baku memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga ketertiban dan profesionalitas komunikasi. Bahasa baku yang sesuai dengan kaidah tata bahasa dan ejaan yang benar, mampu menyampaikan pesan secara jelas dan dapat diterima oleh khalayak luas. Bahasa baku juga menjadi standar yang wajib dikuasai oleh mahasiswa sebagai bekal dalam dunia pendidikan dan karier di masa depan. Jadi, bagaimana kita menemukan keseimbangan antara keduanya?
Pertama, kesadaran akan konteks adalah kunci utama. Bahasa gaul sangat cocok untuk percakapan santai, media sosial, atau saat berinteraksi dengan teman sebaya. Sementara bahasa baku harus digunakan di lingkungan formal, seperti kantor, sekolah, dan acara resmi. Dengan mengenali situasi dan audiens, kita bisa memilih bahasa yang tepat.
Kedua, penting untuk tetap menguasai bahasa baku sebagai dasar. Bahasa gaul boleh berkembang dan berubah, tapi pondasi bahasa baku memberikan kita kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik secara luas dan universal. Pendidikan bahasa yang kuat akan membantu seseorang menjadi komunikator yang fleksibel dan adaptif.
Tidak kalah penting adalah sikap terbuka terhadap perkembangan bahasa gaul sebagai bagian dari dinamika sosial budaya yang tidak dapat dihindari. Dengan memahami bahasa gaul, kita dapat lebih mudah beradaptasi dengan perubahan komunikasi dan tetap menjaga relevansi dalam lingkungan sosial yang lebih luas.
Dengan demikian, keseimbangan antara bahasa gaul dan bahasa baku merupakan sebuah kebutuhan mutlak di era modern. Keseimbangan ini tidak hanya mendukung komunikasi yang efektif, tetapi juga memperkaya kemampuan kita dalam berbahasa sesuai dengan situasi yang dihadapi. Melalui penguasaan dan pemahaman kedua jenis bahasa tersebut, mahasiswa dapat menjadi komunikator yang adaptif dan profesional.
