Mohammad Yani
Mahasiswa Universitas Terbuka UPBJJ Pangkalpinang

Literasi bukanlah hal baru di dunia pendidikan. Literasi juga menjadi kebutuhan setiap orang dimana dan kapan saja. Secara singkat literasi adalah kemampuan seseorang untuk terlibat aktif dan efektif dalam dunia yang penuh informasi.

Pada awalnya literasi dikenal terbatas pada menulis dan membaca saja, namun seiring perkembangan zaman literasi pun ikut berkembang hingga sekarang. Saat ini kita mengenal literasi sain, literasi digital, literasi finansial dan lain sebagainya. Pendidikan pun tak lepas dari kata literasi. Untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran maka perlu literasi yang baik, untuk itu seorang guru harus paham dan bisa melakukan kegiatan literasi dengan baik.

Mengacu dari KBBI, literasi digital diartikan sebagai kemampuan untuk memahami informasi berbasis komputer. Namun diera sekarang ini bukanlah hal yang sulit untuk menjangkau literasi digital,karena hampir tiap orang memiliki gaget yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja karena selain komputer, gaget juga merupakan alat literasi digital yang smart dan mudah digunakan.

Setiap hari orang bisa berselancar untuk menikmati liteasi digital yang disajikan melalui benda kecil ini. Namun seberapa dampak literasi digital ini bagi dunia pendidikan?

Ibarat dua sisi mata uang begitu juga kebermanfaatan literasi digital ini bagi pendidikan. Kemudahan mengakses informasi, peningkatan kemampuan kognitif dan kreatifitas menjadi manfaat secara umum dari liteari digital. Namun tidak dipungkiri semangkin mudah kita mengakses suatu informasi maka kita juga dituntut harus bisa melakukan pemilahan atas informasi yang didapat tersebut. Dengan kata lain kita harus selektif dalam mengakses informasi tersebut. Hal ini menjadi salah satu dampak negatif yang sering terjadi di kalangan penikmat literasi digital, bullying dan gangguan konsentrasi juga menjadi bagian yang harus dialami pecandu literasi digital ini.

Tapi bagaimana pengawasan kita terhadap penikmat literasi digital dikalangan anak sekolah dasar yang notabene di usia 7 samapi 12 tahun?

Sarana literasi digital yang smart dan menjamur adalah gadget. Tentunya hampir semua orang memiliki benda ajaib ini. Karena selain mudah digunakan, benda ini mudah dibawa kemana- mana.Penggunaan gaget pada anak Usia dini di Indonesia cukup tinggi. Data BPS menunjukkan bahwa sekitar 33,44 % anak usia dini telah menggunakan gaget. Hal ini tentu harus menjadi perhatian kita bersama,terlepas penggunaan gaget tersebut untuk belajar maupun untuk bermain game.

Penting untuk diingat bahwa peran guru, orang tua dan pemerintah sangatlah penting dalam upaya pengawasan penggunaan gaget ini bagi anak anak usia dini. Memastikan setiap anak memiliki waktu bermain yang cukup, berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan mendapat stimulasi yang tepat adalah hal penting yang harus selalu perhatikan dalam tumbuh kembang anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *