Diaz Fitdiah Sari
Mahasiswi Program Studi Manajemen
Universitas Bangka Belitung
TikTok telah berkembang menjadi salah satu platform media sosial paling fenomenal di era digital, terutama di kalangan remaja dan generasi muda. Lebih dari sekadar tempat hiburan dan ekspresi diri, TikTok kini telah bertransformasi menjadi arena penting bagi kampanye politik dan penyebaran informasi yang sangat cepat. Namun, di balik popularitas dan pengaruhnya yang besar, muncul pertanyaan krusial: apakah
generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, sudah benar-benar cerdas dalam
memilih dan menyaring informasi politik yang mereka konsumsi di TikTok?
Kekuatan TikTok dalam Politik
TikTok menawarkan format video singkat yang sangat efektif untuk menyampaikan
pesan politik secara menarik dan mudah dicerna. Dengan durasi video yang biasanya hanya 15 hingga 60 detik, konten politik dapat dibuat kreatif, ringan, dan mudah viral. Politisi dan partai politik pun semakin gencar memanfaatkan platform ini untuk menjangkau pemilih muda dengan gaya komunikasi yang lebih santai dan sesuai tren.
Misalnya, penggunaan musik populer, meme, dan tantangan (challenges) yang sedang viral menjadi strategi ampuh untuk menarik perhatian pengguna muda.Selain itu, algoritma TikTok yang canggih secara otomatis menyesuaikan konten yang
muncul berdasarkan interaksi pengguna, sehingga mereka cenderung terus menerima video dengan tema serupa. Hal ini memungkinkan pesan politik tertentu menyebar dengan sangat cepat dan luas. Namun, di sisi lain, algoritma ini juga berpotensi menciptakan “filter bubble” — sebuah kondisi di mana pengguna hanya terpapar pada satu sudut pandang atau ideologi tertentu, yang dapat memperkuat polarisasi opini di kalangan generasi muda.
Dampak dan Tantangan
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa TikTok memiliki pengaruh signifikan
terhadap persepsi dan pilihan politik generasi muda. Banyak pengguna mengaku bahwa pandangan politik mereka berubah setelah menonton konten di TikTok, dan mereka menjadi lebih aktif dalam diskusi serta partisipasi politik. Hal ini menunjukkan bahwa TikTok tidak hanya sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai ruang pendidikan politik yang potensial.
Namun, kekuatan ini juga membawa tantangan besar. Salah satu risiko utama adalah penyebaran disinformasi dan hoaks yang sangat cepat dan sulit dikendalikan. Karena konten di TikTok sangat beragam dan tidak selalu melalui proses verifikasi yang ketat, informasi palsu atau menyesatkan dapat dengan mudah menyebar dan memengaruhi
pemahaman publik terhadap isu-isu penting. Disinformasi ini bisa berupa berita palsu, manipulasi fakta, atau propaganda yang disamarkan dalam bentuk konten yang menarik dan meyakinkan.
Selain itu, personalisasi algoritma yang berlebihan dapat memperkuat bias dan
polarisasi. Pengguna yang hanya terpapar pada satu sudut pandang politik cenderung
mengembangkan pandangan yang sempit dan kurang kritis. Hal ini berpotensi
memperdalam perpecahan sosial dan menghambat dialog yang sehat antar kelompok dengan ideologi berbeda.
Literasi Digital sebagai Kunci Utama
Dalam konteks ini, literasi digital menjadi kunci utama agar generasi muda dapat
menjadi pemilih yang cerdas dan kritis. Literasi digital tidak hanya berarti kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan untuk mengevaluasi, memverifikasi, dan menyaring informasi secara kritis. Generasi muda yang memiliki literasi digital baik cenderung lebih rasional dalam mengambil keputusan politik dan lebih tahan terhadap pengaruh disinformasi. Pendidikan literasi digital harus menjadi prioritas tidak hanya di sekolah, tetapi juga di keluarga dan masyarakat luas. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan platform media
sosial seperti TikTok perlu bekerja sama untuk menyediakan edukasi yang memadai
tentang cara mengenali berita palsu, memahami konteks politik, dan mengembangkan sikap kritis terhadap konten yang dikonsumsi.
TikTok telah membuka peluang baru dalam dunia politik dengan menjangkau generasi
muda secara efektif dan inovatif. Namun, potensi besar ini juga disertai dengan tantangan serius terkait penyebaran informasi yang akurat dan sehat. Oleh karena itu, agar generasi muda benar-benar cerdas dalam memilih dan menyaring informasi politik di TikTok, peningkatan literasi digital harus menjadi fokus utama. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi yang cerdas, tetapi juga partisipan aktif yang mampu berkontribusi positif dalam demokrasi dan pembangunan bangsa
