Pandemi Covid-19 yang melanda dunia di akhir tahun 2019 lalu membuat karir kepelatihan Robin di Dubai terhenti. Dia direkomendasikan Kedubes RI untuk Uni Emirate Arab pulang ke Tanah Air. Setelah bersepakat dengan timnya, dia akhirnya terbang ke Indonesia.
Laporan : Devi Dwi Putra
“Sempat pulang ke Bangka sebentar ya dan beberapa hari kemudian berangkat ke Banten dan bantu salah satu tim di sana. Kemudian di waktu berbeda saya dapat tiga tawaran melatih, pertama di China, kedua Tim Sulawesi Tenggara dan terakhir dari Qatar,” katanya.
Robin menceritakan, pertama tawaran melatih di China tersebut ia dapatkan saat masih berada di Banten. Sedangkan tawaran dari Qatar datang pada saat dirinya sedang menangani Tim Bulu Tangkis Sultra untuk persiapan menuju PON XX Papua 2021.
Walaupun demikian, Robin pada saat itu harus mengubur mimpinya untuk kembali berkarir di luar negeri. Dua tim di negara berbeda itu semuanya batal dia latih akibat naik-turun kasus corona yang membuat pengurusan visa Robin ditolak dari kedutaan besar China dan Qatar di Indonesia.
“Intinya kemarin persoalan kenapa bisa batal itu saat pengurusan visa. Untuk ke China saat itu schedule pengapplayan visa bersamaan PPKM Level 4 di Jakarta, embassy tutup dan prosesnya mengurus dokumen butuh waktu yang lebih lama lagi,” katanya.
Saat menunggu proses pengurusan visa selesai dan jadwal keberangkatan, Robin justru mendapat tawaran menjadi pelatih Tim Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) persiapan menuju PON XX Papua. Akhirnya dia terima tawaran tersebut dan fokus melatih di sana.
“Saya juga dampingi atlet-atlet Sultra di Papua sampai kegiatan PON selesai. Kalau untuk ke Qatar kenapa itu bisa batal jadi ceritanya satu bulan sebelum berlaga di PON saya mendapatkan tawaran melatih di Qatar tepatnya di Kota Doha,” ungkapnya.
“Setelah semua administrasi selesai di Sultra tadi, saya pulang dulu sebentar ke Bangka sambil menunggu jadwal ke Qatar. Tetapi saat menunggu proses visa selesai, ternyata visanya ditolak karena belum bisa masuk ke Qatar sebab covid semakin tinggi saat itu,” jelasnya.
Beberapa hari berselang setelah Robin batal berangkat ke Qatar, ia kembali menerima tawaran ke Arab Saudi. Dia saat itu dihubungi pihak Al-Faraa Club dan memintanya untuk melatih di sana. Akhirnya setelah bernegosiasi san semuanya cocok, ia kemudian terbang ke Arab Saudi dan menerima kontrak 1 tahun di sana.
Menurut Robin, ia belum terlalu berpikir kedepan perjalanannya seperti apa nantinya, walaupun sudah banyak mengasilkan pemain juara Nasional maupun internasional. Ia saat ini hanya fokus agar atlet binaannya mampu berkembang lebih baik lagi baik itu dari skill dan kemampuan selama kontrak kerja yang dia teken belum berakhir.
“Belum tahu kedepannya,keinginan hanya ingin menciptakan pemain bisa berprestasi di internasional sekarang dan yang penting menghabiskan kontrak dulu di sini. Jika memang nanti setelah dari sini ada tawaran yang lebih baik, kenapa tidak. Kalau dipanggil timnas, saya siap dan itu salah satu impian saya. Berharap nantinya bisa mengabdikan diri untuk Indonesia,” terangnya.
*Pesan & Harapan Robin kepada Para Atlet di Babel
Untuk putra-putri terbaik di Babel yang saat ini sedang bermimpi menjadi atlet berprestasi dari perbagai cabang olahraga, khususnya bulu tangkis, dia berpesan agar terus bekerja keras, giat berlatih, disiplin dan fokus. Serta untuk tidak lupa dengan tawakal kepada-Nya.
“Segala kekurangan dan keterbatasan yang ada jangan dijadikan penghambat dalam meraih semua itu. Buang sifat pesimis terus bersemangat, tak mudah putus asa dan yakin, mengapa mereka bisa, kita tidak. Saya juga berharap semoga bulu tangkis di Babel semakin maju dan terus meningkat. Begitu juga atlet-atlet Babel bisa terus torehkan prestasi di tingkat nasional bahkan internasional,” tutupnya.(dev)

