Oleh :Zamzami

Perayaan 260 tahun Sungailiat seharusnya bukan sekadar seremoni nostalgia, tetapi momen bercermin secara jujur, kita sedang berada di persimpangan, mau persimpangan yang mana kita lewati.

Di satu sisi, ada kebanggaan sejarah dan identitas; di sisi lain, realitas yang tidak bisa disangkal, defisit anggaran, tata kelola pertambangan yang carut-marut, dan birokrasi yang belum sepenuhnya adaptif, pelayanan publik yang masih belum optimal, kepemimpinan yang masih timbang-timbang, dan sebagainya, terlebih penting adalah bagaimana SDM Pemuda masa depan bagi daerah yang akan melanjutkan keberlangsungan daerah ini, belum terlihat bagaimana kepedulian pemerintah membangun, memotivasi, mengispirasi untuk bersaing memperbaiki kualitas diri.

Daerah ini selama bertahun-tahun dipertontonkan dengan ketergantungan pada sektor timah, sehingga telah membentuk pola ekonomi yang rapuh. Ketika tata kelola pertambangan tidak transparan, maka yang lahir bukan kesejahteraan kolektif, tetapi ketimpangan, konflik, dan kerusakan lingkungan.

Ini bukan semata soal ilegal vs legal, tapi soal keberanian menata ulang sistem yang selama ini dibiarkan “setengah diatur, setengah dibebaskan.”kenapa?

Di saat yang sama, defisit anggaran menunjukkan satu hal, struktur fiskal daerah belum sehat. Belanja sering lebih cepat tumbuh daripada kemampuan menghasilkan pendapatan. Ini diperparah jika birokrasi masih berorientasi prosedur, bukan hasil. Akhirnya, pemerintah sibuk mengelola administrasi, bukan menyelesaikan masalah.

Mari kita bangkit dari keterpurukan ekonomi, bersatu membangun, berjuang bersama buka hanya golongan tertentu saja, dan jangan alergi pada kritikan yang membangun, kadang sering disalah artikan kritikan dianggap musuh atau perlawanan, padahal dengan kritikan membangun kita bisa bangkit bersama, namun berhenti pada kritik saja tidak cukup. Kebangkitan Sungailiat justru harus dimulai dari krisis ini.

Pertama, reset arah ekonomi daerah. Sungailiat tidak bisa terus menggantungkan masa depan pada ekstraksi. Diversifikasi bukan jargon, ia harus konkret, pariwisata berbasis pesisir dan sejarah, perikanan bernilai tambah, serta UMKM yang benar-benar naik kelas, generasi muda harus berorientasi jadi pengusaha, Tanpa itu, setiap fluktuasi timah akan terus mengguncang ekonomi lokal.

Kedua, reformasi tata kelola pertambangan. Pilihannya tegas, ditata serius atau dihentikan bertahap di wilayah tertentu. Tidak ada ruang untuk pembiaran. Penegakan hukum harus konsisten, bukan musiman. Jika tidak, negara akan terus kalah oleh jejaring informal yang lebih kuat di lapangan.

Ketiga, perampingan dan transformasi birokrasi. Bukan sekadar efisiensi anggaran, tetapi perubahan cara kerja. Ukur keberhasilan dari dampak, bukan dari serapan. Kurangi kegiatan seremonial, perbanyak intervensi nyata. ASN harus menjadi problem solver, bukan sekadar pelaksana rutinitas.

Keempat, kejujuran fiskal. Defisit tidak bisa ditutup dengan optimisme semata. Harus ada keberanian memotong belanja yang tidak produktif, meningkatkan PAD secara realistis, dan membuka ruang kolaborasi dengan sektor swasta tanpa mengorbankan kepentingan publik.

Kelima, mengembalikan kepercayaan publik. Ini fondasi yang sering dilupakan. Tanpa trust, kebijakan sebaik apa pun akan ditolak atau diabaikan. Transparansi, partisipasi, dan komunikasi yang jujur harus menjadi standar baru.

Pada akhirnya, usia 260 tahun bukan sekadar angka panjang, ia adalah ujian kedewasaan. Pertanyaannya bukan lagi “apa yang sudah kita capai,” tetapi “apakah kita berani berubah?”

Sungailiat bisa bangkit. Tapi syaratnya jelas, keluar dari zona nyaman, memutus siklus lama, dan membangun masa depan dengan cara yang berbeda. Jika tidak, kita hanya akan terus merayakan usia, tanpa pernah benar-benar bertumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *