Proses pembuatan belacan atau terasi Toboali pada saat pemecahan Rekor MURI, Sabtu (26/9/2026). Foto : Hairul/Kabarbabel.com

Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Dar, 62 tahun, mulai bekerja di atas papan kayu sederhana. Di hadapannya, adonan belacan berwarna kemerahan siap diolah. Pisau, cetakan kayu, dan alat pemukul berada dalam jangkauan tangannya. Ia memotong, membentuk, lalu memadatkan adonan yang telah diolah sejak sehari sebelumnya.

Aroma udang fermentasi memenuhi ruang kerja. Bagi sebagian orang, baunya mungkin menyengat. Namun, bagi Dar, aroma itu adalah sumber penghidupan. Dari udang rebon, garam, tenaga, dan panas matahari, perempuan asal Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, ini memperoleh penghasilan untuk keluarganya. “Belacan ini sudah menjadi sumber penghasilan keluarga,” kata Dar, Sabtu (26/9/2026).

Selama bertahun-tahun, usaha Dar berjalan dengan cara sederhana. Belacan dibuat, dibungkus, lalu dijual. Pembeli datang membawa uang tunai. Transaksi selesai di tempat. Kini, sebagian pembelinya berada jauh dari Toboali. Pesanan datang melalui kanal daring, produk dikirim menggunakan jasa ekspedisi, dan pembayaran diterima melalui transfer. Hasil kerja yang dahulu diterima dalam lembaran uang kini juga muncul sebagai angka di layar telepon.

Perubahan ini bukan sekadar soal cara bertransaksi. Bagi pelaku usaha mikro, akses ke layanan keuangan formal dapat membuka peluang untuk mencatat arus kas, memperoleh pembiayaan, dan mengembangkan usaha. Namun, manfaat itu tidak datang dengan sendirinya. Literasi keuangan, pendampingan, dan perlindungan konsumen tetap dibutuhkan. Kisah perajin belacan Toboali memperlihatkan bagaimana perluasan pasar dapat menjadi pintu masuk menuju ekosistem keuangan yang lebih inklusif.

Tiga Kilogram Udang, Satu Kilogram Belacan

Membuat belacan membutuhkan waktu dan kesabaran. Udang diolah dan dijemur, kemudian ditumbuk menggunakan lesung serta dicampur garam. Adonan didiamkan sekitar sehari. Setelah itu, adonan kembali dijemur dan ditumbuk hingga lebih halus sebelum dibentuk dan dikemas. Cuaca menentukan irama produksi. Saat matahari bersahabat, pengeringan berjalan lebih cepat. Sebaliknya, hujan dapat menunda proses. Bagi perajin, cuaca turut menentukan jumlah produk yang selesai dibuat dan pendapatan yang bisa dibawa pulang.

Bahan bakunya beragam, antara lain udang jenis Kampat, Mayang, Bubuk, dan Gerancet. Sekitar tiga kilogram udang menghasilkan satu kilogram belacan. Harga jualnya berkisar Rp50.000–Rp60.000 per kilogram, bergantung pada kondisi bahan baku dan pasar. Dari usaha tersebut, penghasilan Dar dapat mencapai Rp3 juta–Rp5 juta per bulan.
Pendapatan itu membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan anak. Di Toboali, penghidupan tidak selalu bertumpu pada pabrik atau gedung perkantoran. Bagi Dar, sumbernya ada pada lesung di halaman rumah dan ketekunan menjaga produksi tetap berjalan.

Pasar Meluas, Transaksi Ikut Berubah

Dar bukan satu-satunya perajin yang merasakan perubahan. Maya, 57 tahun, warga Tanjung Ketapang, Toboali, mulai menekuni usaha belacan pada 2023. Ia memanfaatkan pemasaran daring untuk menjangkau pembeli di luar Bangka Belitung. Melalui lapak daring, produknya menjangkau konsumen di Bengkulu, Batam, Bali, Jakarta, hingga Jawa Timur. Dalam sebulan, Maya rata-rata mengirim sekitar 50 kilogram belacan ke luar provinsi. Sementara itu, penjualan di wilayah Bangka Belitung mencapai sekitar 20 kilogram per bulan.

Harga belacan umumnya berkisar Rp40.000–Rp60.000 per kilogram. Namun, ketika pasokan udang menurun di luar musimnya, harga dapat naik hingga sekitar Rp150.000 per kilogram. Ketergantungan pada bahan baku dan cuaca membuat usaha ini rentan terhadap perubahan pasokan. Di sisi lain, pasar yang meluas menuntut pengelolaan produksi, pengemasan, dan transaksi yang lebih tertata. Pesanan jarak jauh membutuhkan rekening tujuan dan sistem pembayaran yang aman. Media sosial menjadi etalase, lapak daring menjadi pasar, sedangkan jasa pengiriman menghubungkan produsen dengan konsumen. Rekening bank pun berperan sebagai penghubung dalam kegiatan usaha, bukan sekadar tempat menyimpan uang. Namun, semakin luas pasar, semakin besar pula kebutuhan untuk mengelola usaha secara tertib. Perajin perlu mengetahui berapa omzet yang diterima, biaya yang dikeluarkan, dan keuntungan yang diperoleh. Catatan transaksi menjadi penting untuk menilai kondisi usaha sekaligus mempersiapkan kebutuhan modal.

248 Perajin dalam Satu Kawasan

Potensi ekonomi belacan Toboali tidak berhenti pada satu atau dua rumah produksi. Data Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bangka Selatan mencatat 248 perajin belacan di Toboali. Mereka tersebar di Kelurahan Tanjung Ketapang, terutama di kawasan pesisir Kampung Padang, Batu Perahu, dan Sukadamai. Angka tersebut menggambarkan mata rantai ekonomi yang melibatkan nelayan, pemasok udang, perajin, pekerja rumah produksi, pedagang, penyedia kemasan, jasa transportasi dan pengiriman, hingga konsumen. Ketika permintaan meningkat, kebutuhan bahan baku dan tenaga kerja ikut bertambah. Distribusi yang lebih luas juga membutuhkan pengemasan dan pengiriman yang andal. Karena itu, penguatan ekonomi belacan tidak cukup hanya dengan mendorong perajin membuka rekening. Layanan keuangan perlu benar-benar menjawab kebutuhan usaha, mulai dari pencatatan transaksi hingga pembiayaan produktif dan pengelolaan risiko.

Potensi tersebut menjadi salah satu sasaran program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) yang didorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan. Program ini menyasar masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang belum optimal memanfaatkan layanan keuangan formal. Belacan Toboali dipilih karena di balik produk pangan khas tersebut terdapat jaringan usaha yang melibatkan banyak pelaku.

Kepala Kantor OJK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Eko Wijaya, mengatakan dukungan bagi UMKM tidak berhenti pada akses permodalan. Pendampingan juga diarahkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, produksi, pengolahan, dan pengemasan. “Kita akan memperkuat dari sisi permodalan, sumber daya manusia hingga pengolahan produk agar pelaku usaha mampu meningkatkan kapasitas produksi dan akses pembiayaan,” kata Eko.

Kepala OJK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Eko Wijaya. Foto : Dok OJK Babel

Pembiayaan memang penting, tetapi bukan satu-satunya jawaban. Modal tanpa kemampuan mengelola usaha berisiko menjadi beban. Sebaliknya, usaha yang memiliki pasar tetapi kesulitan memperoleh pembiayaan akan sulit meningkatkan kapasitas. Pendampingan diperlukan agar layanan keuangan terhubung dengan kebutuhan nyata perajin OJK Babel juga menggandeng sejumlah pihak, termasuk Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), untuk mendorong akses pembiayaan dan pembinaan dari lembaga jasa keuangan. Dukungan kebijakan juga diperlukan untuk memperluas akses tersebut. Melalui Peraturan OJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan kepada UMKM, OJK menyiapkan sejumlah insentif dan penyederhanaan persyaratan bagi lembaga keuangan. Kebijakan ini diarahkan untuk mempercepat proses penyaluran pembiayaan kepada pelaku UMKM.

Meski demikian, kemudahan akses perlu berjalan beriringan dengan ketepatan pembiayaan. Pinjaman seharusnya membantu usaha meningkatkan kapasitas dan produktivitas, bukan menambah beban yang sulit ditanggung.

Dari Lesung ke Mesin Pengering

Penumbukan udang sebagai bahan utama dari pembuatan belacan atau terasi Toboali. Foto : Hairul/Kabarbabel.com

Tantangan produksi masih nyata. Proses tradisional bergantung pada tenaga manusia dan panas matahari. Hujan dapat memperlambat pengeringan, sementara permintaan yang meningkat menuntut kapasitas produksi yang lebih konsisten.

Randi Syafutra, Dosen Konservasi Sumber Daya Alam Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung sekaligus kandidat doktor Ilmu Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan IPB University, menilai program EKI Kampung Terasi Toboali dapat menjadi fondasi untuk memperkuat ekonomi masyarakat. Ia mendorong agar pembiayaan diarahkan pada kebutuhan produktif, termasuk pengadaan alat pengering dan penumbuk yang lebih modern. “Melalui payung program EKI ini, akses pembiayaan resmi harus segera disalurkan agar komunitas perajin dapat memperoleh alat pengering mekanis dan mesin penumbuk modern,” katanya.

Teknologi tidak harus menghapus tradisi. Mesin pengering dapat membantu menjaga produksi ketika cuaca tidak mendukung. Mesin penumbuk juga berpotensi menghemat tenaga dan meningkatkan kapasitas. Namun, investasi perlu disertai perhitungan biaya, kemampuan membayar, dan rencana penggunaan agar pembiayaan benar-benar memperkuat usaha.

Rantai pasok bahan baku juga membutuhkan perhatian. Ketersediaan udang rebon yang stabil dapat membantu menjaga kelancaran produksi dan mengurangi gejolak harga. Fasilitas cold storage milik pemerintah di kawasan pesisir Bangka Selatan berpotensi mendukung upaya tersebut, sepanjang pengelolaan dan aksesnya sesuai dengan kebutuhan perajin.
Belacan Toboali memiliki cita rasa yang menjadi bagian dari identitas lokal. Namun, ketika produk memasuki pasar yang lebih luas, cita rasa perlu didukung kualitas yang konsisten dan proses produksi yang higienis. Penggunaan penutup rambut, sarung tangan, dan celemek, serta penerapan prosedur sanitasi, semestinya menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar dilakukan saat ada kunjungan.

Kebersihan dan pengemasan yang baik membantu membangun kepercayaan konsumen. Perajin juga perlu memastikan bahwa pembiayaan digunakan untuk meningkatkan mutu dan daya saing, bukan semata-mata memperbesar volume produksi. Pasar yang luas hanya menjadi peluang jika produk mampu memenuhi harapan pembeli.

Rekor Harus Berlanjut Menjadi Transaksi

Pengenalan belacan Toboali pernah ditandai dengan pemecahan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Sebanyak 300 kilogram terasi atau belacan habang dibuat secara bersamaan di Sport Center Junjung Besaoh, Toboali. Momentum tersebut menjadi ajang memperkenalkan produk lokal kepada khalayak yang lebih luas.

Wakil Bupati Bangka Selatan Debby Vita Dewi berharap pencapaian itu dapat memperluas pemasaran dan meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat. Pemerintah daerah ingin menjadikan terasi sebagai ikon ekonomi kreatif berbasis hasil laut yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga. Namun, rekor dan seremoni hanyalah awal. Dampak jangka panjangnya ditentukan oleh pesanan yang berulang, produksi yang berkelanjutan, pendapatan yang meningkat, serta kemampuan pelaku usaha mengelola hasil penjualan. Panggung promosi harus diikuti upaya membangun pasar dan memperkuat usaha.

Literasi dan Perlindungan Berjalan Beriringan

Bangka Belitung tercatat memiliki tingkat literasi keuangan tertinggi di wilayah Sumatera Bagian Selatan. Meski demikian, pengetahuan tentang produk keuangan tidak otomatis berarti seluruh masyarakat telah mengakses dan memanfaatkannya secara optimal. Literasi keuangan berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman, sedangkan inklusi keuangan menyangkut akses serta penggunaan layanan. Keduanya perlu berjalan beriringan agar masyarakat tidak hanya mengenal layanan keuangan, tetapi juga mampu memanfaatkannya sesuai kebutuhan.

Bagi perajin, memiliki rekening hanyalah langkah awal. Mereka perlu memahami pencatatan omzet, pemisahan uang usaha dan rumah tangga, biaya pinjaman, serta perbedaan pembiayaan produktif dan utang konsumtif. Catatan transaksi yang tertib membantu pemilik usaha menilai kondisi bisnis dan mempersiapkan pengajuan pembiayaan. Digitalisasi juga membawa risiko. Kemudahan transaksi dapat dimanfaatkan pelaku penipuan. Kesalahan transfer atau penyerahan data pribadi dapat menggerus keuntungan yang dikumpulkan selama berhari-hari. Karena itu, perajin perlu menjaga kerahasiaan data pribadi, memeriksa informasi penerima sebelum mentransfer uang, mengenali modus penipuan, dan mengetahui saluran pengaduan yang tersedia. OJK telah menyediakan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) sebagai salah satu kanal penanganan penipuan transaksi keuangan.

Akses keuangan harus berjalan bersama perlindungan konsumen. Rekening dan kanal digital akan lebih bermanfaat jika penggunanya memahami cara bertransaksi dengan aman, mengetahui biaya serta risikonya, dan tahu ke mana harus mencari bantuan ketika menghadapi masalah.

Rekening yang Menyimpan Kemungkinan

Di Toboali, belacan tampak sebagai bongkahan kemerahan yang dibungkus sederhana. Namun, di baliknya terdapat rangkaian kerja panjang: udang dikumpulkan, bahan diolah, adonan dijemur dan ditumbuk, produk dikemas, lalu dikirim kepada pembeli. Kini, sebagian proses itu terhubung dengan transaksi digital dan rekening bank.
Bagi Dar, pekerjaan dasarnya tetap sama: mengolah udang, mencampur garam, menjemur adonan, lalu membentuk belacan. Yang berubah adalah cara produk dijual dan uang diterima. Perubahan itu membuka peluang untuk mencatat arus kas, memisahkan keuangan keluarga dari usaha, merencanakan kebutuhan modal, dan membangun rekam jejak transaksi. Namun, manfaat tersebut tidak muncul otomatis hanya karena seseorang memiliki rekening. Dibutuhkan pendampingan dan kebiasaan mengelola keuangan secara tertib.

Maya memperlihatkan bagaimana pemasaran daring dapat membawa produk rumahan ke luar daerah. Namun, perluasan pasar juga menghadirkan tantangan baru: memastikan pembayaran aman, menjaga kualitas, mengelola modal, dan memenuhi pesanan tanpa mengorbankan mutu. Teknologi membuka pintu, tetapi keberlanjutan usaha bergantung pada kesiapan orang-orang di baliknya.

Bagi 248 perajin di Toboali, penguatan ekosistem belacan berarti lebih dari sekadar meningkatkan penjualan. Upaya ini menyangkut keberlanjutan mata pencaharian, kestabilan pasokan bahan baku, peningkatan kualitas, akses pembiayaan yang sesuai, serta perlindungan dari risiko transaksi.

Pagi berikutnya, Dar mungkin kembali duduk di papan kayu yang sama. Adonan kemerahan kembali menunggu untuk dipotong dan dibentuk. Matahari tetap menentukan proses pengeringan. Aroma udang fermentasi tetap memenuhi udara. Namun, jalan yang ditempuh hasil kerjanya kini semakin luas. Sebagian pembayaran masuk melalui layar telepon, meninggalkan jejak transaksi yang dapat menjadi awal pengelolaan usaha yang lebih tertata.

Rekening tidak serta-merta mengubah kehidupan. Namun, jika disertai literasi keuangan, perlindungan konsumen, pendampingan, dan pembiayaan yang tepat, rekening dapat membuka pilihan yang sebelumnya sulit dijangkau: membeli peralatan, memperluas pasar, mempekerjakan tenaga tambahan, atau membiayai pendidikan anak.

Pada akhirnya, inklusi keuangan bukan sekadar tentang berapa banyak rekening dibuka, melainkan sejauh mana layanan keuangan membantu masyarakat mengembangkan usaha dan mengurangi kerentanan ekonomi. Di Toboali, perubahan itu bisa bermula dari sebungkus belacan dan satu pembayaran digital. Dari aroma tradisi yang bertahan lintas generasi hingga bunyi notifikasi di layar telepon, terbuka peluang bagi perajin pesisir untuk mengembangkan usaha, menjaga penghidupan, dan menatap masa depan dengan lebih percaya diri.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *