TOBOALI, KABARBABEL.COM – Harga jual beras yang anjlok pada musim panen kali ini menimbulkan keresahan bagi para petani yang berada di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan (Basel). Apalagi harga pupuk terus melambung tinggi.
Namun demikian, keresahan juga turut dirasakan oleh para pengepul beras di Basel. Baik petani atau pengepul mengaku kesulitan dalam menjual beras jenis merah atau putih di pasaran lokal dari kabupaten/kota lain di Babel.
Kepada wartawan, Iman salah seorang yang memiliki mesin penggiling padi dan menjadi agen distributor beras di Basel mengaku sudah berulang kali menjual beras dari petani padi lokal. Namun masih mengalami kesulitan.
“Saya sudah keliling untuk memasarkan beras hasil petani Basel, bukan hanya disini saja tapi seluruh Babel. Tapi masih ada kendala karena dalam pemasaran banyak saingan dengan beras dari luar,” ujarnya, Senin (20/6).
Ia mengungkapkan dalam satu pekan dapat mendistribusikan dan memasarkan beras Basel, sebanyak 1,5 ton di satu Kabupaten/Kota di Babel. Namun belakangan beras Basel kurang diminati lantaran dinilai memiliki kekurangan.
“Hampir satu bulan ini kurang diminati pembeli katanya berasnya pecah dan mereka kurang suka. Padahal beras yang kita jual murah dan mutunya gak kalah saing dengan beras luar Bangka,” sebutnya.
Selain itu, hal yang menjadi kendala di musim panen yaitu minimnya mesin penggilingan. Apalagi ketika hasil panen melimpah membuat efektivitas produksi kurang baik. Ditambah lagi mesin rusak lantaran terus dipaksa beroperasi.
Sementara itu, salah seorang petani di Desa Rias Fahrodi menuturkan benar adanya apabila saat ini mereka alami kesulitan hasil panen. Memang ada para pembeli namun masalahnya para distributor terkadang berhutang terlebih dahulu.
“Ada yang mau ambil berasnya tapi bayarnya dua kali dan bisa sampai satu bulan baru dibayar. Padahal sekarang kami sudah memasuki musim panen,” ungkap Fahrodi.(dev)

