Manggar – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Pemprov Babel) menyiapkan Desa Dendang, Kabupaten Belitung Timur, sebagai pusat pembelajaran nasional dalam transformasi lahan pascatambang.
Program tersebut merupakan kolaborasi antara Pemprov Babel, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Federal Institute for Geosciences and Natural Resources (BGR) Jerman.
Kepala Bappelitbangda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Joko Triadhi, mengatakan pemerintah provinsi berperan sebagai penanggung jawab area dalam pelaksanaan program tersebut.
“Kami menjalankan mandat gubernur untuk mengawal kegiatan ini secara penuh, sekaligus menjadi penghubung antar pemangku kepentingan,” ujar Joko dalam keterangan yang diterima, Senin (13/4).
Ia menjelaskan, program ini difokuskan pada pengembangan model bisnis pedesaan berkelanjutan melalui pemanfaatan lahan bekas tambang.
Pengembangan tersebut mengacu pada inovasi lokal masyarakat Desa Dendang, yakni budidaya padi apung di kolong bekas tambang yang dinilai memiliki potensi ekonomi.
Saat ini, proyek telah memasuki tahap finalisasi dokumen kerja sama. Secara paralel, tim gabungan dari Bappenas, Bappelitbangda Babel dan BGR Jerman tengah melakukan kajian dasar untuk memetakan kondisi biofisik, sosial, dan ekonomi wilayah.
Joko menambahkan, meskipun berlokasi di Belitung Timur, program ini dirancang dalam skala regional dan diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain di Bangka Belitung.
Pemprov Babel juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Belitung Timur guna memastikan sinkronisasi pelaksanaan program di lapangan.
Secara teknis, program akan menitikberatkan pada pengembangan model yang aplikatif dan mudah diterapkan masyarakat, serta mendukung konsep ekonomi sirkular dan pengembangan desa wisata.
“Transformasi lahan pascatambang membutuhkan proses jangka panjang yang terukur agar dapat kembali produktif dan memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” kata Joko. (*/)
