PUDINGBESAR – Bupati Bangka H. Fery Insani turun langsung ke lahan pertanian milik Alwan di Desa Labu, Kecamatan Puding Besar, Sabtu (26/9/2026).
Bukan sekadar menghadiri kegiatan, Fery ikut menugal bersama warga. Dengan menggunakan alat sederhana berupa kayu yang diruncingkan pada salah satu ujungnya, ia membuat lubang di tanah sebelum memasukkan benih padi.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan tradisi nugal yang masih dijalankan masyarakat Bangka. Tradisi ini sekaligus memperlihatkan pola bertani masyarakat yang mengandalkan kebersamaan dalam proses penanaman padi ladang.
Plt Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka, Subhan, mengatakan nugal merupakan tradisi yang hingga kini masih dilakukan masyarakat.
Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai sosial yang kuat karena proses penanaman biasanya dikerjakan secara bersama-sama.
“Nugal adalah tradisi dari masyarakat yang terus ada. Tradisi ini perlu dipertahankan. Ada kebersamaan, gotong royong sesama warga,” kata Subhan.
Dalam pelaksanaannya, lahan terlebih dahulu dibersihkan. Setelah beberapa hari, masyarakat mulai melakukan penanaman dengan cara membuat lubang-lubang kecil menggunakan kayu yang telah diruncingkan.
Benih padi kemudian dimasukkan ke dalam lubang tersebut. Prosesnya dilakukan secara berkelompok sehingga pekerjaan yang cukup berat di lahan dapat diselesaikan bersama.
“Bagi masyarakat yang masih menjalankan pola pertanian ini, nugal bukan sekadar teknik menanam. Ada pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi, termasuk mengenai waktu pelaksanaan, persiapan lahan, hingga pembagian pekerjaan saat menanam,” kata Subhan.
Kehadiran Bupati Bangka di tengah kegiatan tersebut turut menjadi kesempatan bagi pemerintah daerah untuk melihat langsung aktivitas petani sekaligus mendengar aspirasi mereka.
Fery tampak berbaur dengan warga selama proses penanaman. Tidak ada jarak antara pemimpin daerah dan masyarakat ketika mereka bersama-sama berada di lahan untuk melakukan pekerjaan yang sama.
Bagi warga Desa Labu, kegiatan nugal hari itu menjadi gambaran bahwa tradisi lama masih dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Kayu sederhana yang digunakan untuk membuat lubang tanam menjadi simbol dari cara bertani yang diwariskan dari generasi sebelumnya, sementara keterlibatan pemerintah dan masyarakat menunjukkan adanya upaya agar pengetahuan tersebut tidak berhenti pada satu generasi.
