“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Suara azan Zuhur mengalun indah di antara rumah-rumah penduduk Pulau Rengit. Menembus udara laut yang hangat, lalu mengambang di atas perairan yang mengelilingi pulau kecil di Desa Pegantungan, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung.
Siang itu, matahari bersinar lumayan terik. Dari sebuah musala kecil bernama An Ni’mah, seorang muazin mengumandangkan azan. Suaranya terdengar lebih jauh, menjangkau rumah-rumah warga yang berdiri menghadap laut. Bagi sebagian orang, suara azan dengan pengeras suara mungkin bukan sesuatu yang istimewa. Namun, bagi masyarakat Pulau Rengit, Desa Pegantungan, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, ada cerita panjang di balik suara yang kini bisa terdengar lebih lantang itu.
Dahulu, listrik di pulau ini hanya menyala selama 12 jam. Ketika genset berhenti bekerja, rumah-rumah perlahan tenggelam dalam gelap. Pengeras suara musala pun tak bisa digunakan setiap saat. Kini, semuanya berbeda. Bukan musalanya yang berubah. Bukan pula suara azan muazin yang menjadi lebih kuat. Yang berubah adalah sesuatu yang selama bertahun-tahun membatasi kehidupan warga: listrik.
Sejak sistem pembangkit energi terbarukan beroperasi, Pulau Rengit telah menikmati listrik selama 24 jam. Dua belas jam tambahan itu mungkin hanya terlihat sebagai angka di atas kertas. Namun, bagi masyarakat pulau, tambahan waktu tersebut berarti memberikan suatu kesempatan untuk bekerja, belajar, menyimpan hasil tangkapan, dan menjalankan usaha tanpa harus terus-menerus menghitung kapan listrik akan padam. Untuk mencapai Pulau Rengit, perjalanan kita mulai dari Pelabuhan Tanjung Ru, Desa Pegantungan. Sebuah perahu nelayan yang berisikan muatan batako membawa kami menyeberangi laut. Tak lama, hanya sekitar 10 menit.
Dari atas perahu, pulau itu perlahan terlihat. Rumah-rumah sederhana berdiri menghadap perairan. Perahu nelayan menjadi bagian dari keseharian. Pohon-pohon kelapa dan sagu tumbuh di antara permukiman. Sesekali, monyet-monyet terlihat bergelantungan di dahan, mencari makan di antara buah dan pelepah kelapa. Sekitar 200 orang menghuni pulau kecil tersebut. Laut menjadi halaman depan sekaligus sumber penghidupan mereka. Di tempat inilah, perubahan energi menghadirkan cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar lampu yang menyala.
Ketika Malam Dibatasi Waktu
Fit, seorang nelayan tradisional Pulau Rengit, masih mengingat bagaimana kehidupan sebelum listrik tersedia sepanjang hari. Dulu, warga sangat bergantung pada genset. Listrik hanya menyala pada jam-jam tertentu. Ketika pembangkit berhenti, aktivitas yang membutuhkan penerangan pun juga ikut terhenti. Bagi masyarakat perkotaan, listrik padam mungkin hanya berarti televisi mati atau pendingin ruangan berhenti bekerja. Namun, bagi warga pulau kecil seperti Rengit, listrik memiliki arti yang jauh lebih besar. Ia berkaitan dengan pekerjaan. Penghasilan. Pendidikan anak. Hingga kemampuan menyimpan hasil laut.
Malam menjadi waktu yang harus diperhitungkan. Fit sendiri memiliki kehidupan yang tak sepenuhnya mengikuti kebiasaan orang lain. Ketika sebagian warga mulai beristirahat selepas Magrib, ia justru bersiap mencari penghidupan. Ia perlahan berjalan menuju lautan. Udang dan kepiting menjadi buruannya. Peralatannya sangat sederhana. Sebuah senter. Tanggok, dan juga minyak sayur yang disimpan di dalam wadah semprotan. Minyak tersebut nantinya digunakan Fit untuk membantu menenangkan permukaan air agar keberadaan udang dan kepiting lebih mudah terlihat.
Dalam gelap, Fit menyusuri perairan yang mulai surut. Senter terpasang di atas kepala. Cahaya kecil itu menjadi penuntun langkah sekaligus mata untuk mencari penghidupan. Di tengah keterbatasan, laut adalah tempatnya menggantungkan harapan. “Alhamdulillah bisa untuk menghidupi keluarga, Bang,” katanya bercerita, Minggu (1/11/2026).
Darsin, nelayan lainnya mengungkapkan, dirinya sudah tinggal di pulau tersebut selama 38 tahun. Sejak listrik hidup selama 24 jam, dirinya mengaku sangat senang. “Saya asli Pulau Rengit. Selama ini belum ada listrik dan hanya mengandalkan genset saja. Dari itu kami susah, Pak. Mau ngecas handphone susah, anak sekolah mau bangun pagi susah karena gelap. Mana harus sudah di pelabuhan pukul 05.00 pagi, karena kalau sekolah harus menyeberang,” kata Darsin.
Untuk itu, dengan segala keterbatasan selama ini, Darsin menyampaikan terima kasihnya karena dengan adanya aliran listrik selama 24 jam, sangat membantu dan memudahkan segala aktivitas masyarakat. “Kalau kita sebagai nelayan senang betul. Sekarang sudah ada kulkas, bisa untuk menyimpan hasil tangkapan. Kalau dulu kan harus buru-buru kita jual ke Tanjungpandan,” kenangnya.
Dari Rp78 Ribu Sehari Menjadi Rp45 Ribu Sebulan
Perubahan di Pulau Rengit bukan hanya terasa pada aktivitas warga. Dampaknya juga langsung menyentuh pengeluaran rumah tangga. Sulaidi, Ketua RT 01 RW 01 Pulau Rengit, juga mengingat masa ketika listrik menjadi kebutuhan yang mahal sekaligus terbatas. Sebenarnya, Pulau Rengit pernah memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada 2014. Namun, pembangkit tersebut berhenti beroperasi lima tahun kemudian. “Pada 2019 sudah mati total. PLTS itu hanya berjalan lima tahun,” kenang Sulaidi.
Setelah pembangkit berhenti beroperasi, warga kembali mengandalkan genset. Untuk menikmati listrik sekitar empat jam, masyarakat harus mengeluarkan biaya sekitar Rp26 ribu. Jika ingin mendapatkan penerangan selama 12 jam, pengeluaran bisa mencapai Rp78 ribu sehari. Bagi masyarakat yang sebagian besar menggantungkan penghasilan dari laut, biaya tersebut bukan jumlah kecil. Bayangkan, uang yang seharusnya dapat digunakan untuk kebutuhan dapur, pendidikan anak, atau keperluan melaut harus dialokasikan untuk mendapatkan listrik.
Dan kini, situasinya berubah. Dengan sistem kelistrikan baru, warga menggunakan token listrik. Pengeluaran yang dirasakan jauh lebih ringan, sekitar Rp45 ribu per bulan. Dari Rp78 ribu sehari menjadi sekitar Rp45 ribu sebulan. Perbandingan itu memperlihatkan betapa besar perubahan yang dirasakan masyarakat. “Sekarang sama seperti biasa. Kita beli token listrik,” ujar Sulaidi.
Namun, yang paling membekas baginya bukan semata-mata penghematan biaya. Ia bercerita tentang anak-anak yang kini bisa belajar lebih lama. Tentang bahan makanan yang dapat disimpan. Tentang es yang bisa tersedia untuk membantu menjaga hasil tangkapan nelayan. “Dulu kalau sudah lewat tengah malam rumah kami gelap gulita, anak-anak susah belajar, dan kami tidak bisa menyimpan bahan makanan atau es untuk tangkapan ikan,” tuturnya.
Ia kemudian mengungkapkan rasa syukur atas perubahan tersebut. “Sekarang, dengan adanya listrik 24 jam penuh dari matahari, kami bisa lebih produktif bekerja dan kehidupan malam di pulau jadi lebih hidup.” Bagi Sulaidi, listrik bukan lagi sesuatu yang harus ditunggu kedatangannya atau ditakuti saat waktunya berhenti. Kini, warga bisa menjalani malam tanpa harus khawatir rumah kembali gelap.
Sebuah Freezer, Sejuta Arti Bagi Usaha Kecil
Di Pulau Rengit, perubahan besar tidak selalu terlihat dari bangunan megah atau mesin-mesin berukuran besar. Kadang, perubahan itu hadir dalam bentuk sebuah freezer. Bagi masyarakat kota, freezer mungkin hanya peralatan rumah tangga biasa. Namun, bagi warga pulau yang hidup dari hasil laut, benda itu bisa menentukan apakah hasil tangkapan masih memiliki nilai jual atau justru membusuk sebelum sampai ke tangan pembeli.

Susi, pelaku UMKM di Pulau Rengit, merasakan betul manfaatnya. Ia membeli isi kepiting dari nelayan sekitar dengan harga sekitar Rp160 ribu per kilogram. Hasil laut tersebut kemudian disimpan di dalam freezer sebelum diambil pembeli dari Tanjungpandan. “Per kilo Rp160 ribu. Nanti ada bos yang ambil dari Tanjungpandan. Sebelum diambil, isi kepiting kita masukkan ke dalam freezer dulu agar tidak busuk,” katanya.
Dahulu, keterbatasan listrik membuat penyimpanan hasil laut menjadi persoalan tersendiri. Kini, freezer dapat bekerja lebih leluasa karena listrik tersedia sepanjang hari. Bagi Susi, freezer bukan sekadar mesin pendingin. Ia menjadi penjaga hasil kerja nelayan, sekaligus penopang usaha kecil yang sedang dijalankannya. Susi juga memiliki toko kelontong dan menjual minuman es. Blender yang digunakan untuk menunjang usahanya kini dapat dipakai kapan saja. “Pokoknya Alhamdulillah sejak ada PLTS ini sangat membantu sekali,” ujarnya.
Perubahan serupa dirasakan nelayan yang mengandalkan tangkapan rajungan. Sebelum listrik tersedia 24 jam, hasil tangkapan harus segera dibawa ke Tanjungpandan agar kualitasnya tidak menurun. Mereka tidak punya banyak pilihan. Sekarang, keberadaan freezer memberikan keleluasaan untuk menyimpan hasil laut sebelum dijual. Ada waktu untuk menunggu pembeli. Ada kesempatan untuk menjaga kualitas. Ada peluang untuk memperoleh nilai jual yang lebih baik.
Di sebuah pulau yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dari laut, listrik akhirnya menjadi bagian penting dari rantai ekonomi masyarakat. Energi tidak lagi hanya menerangi rumah. Ia membantu menjaga penghasilan keluarga.
Matahari Tetap Bekerja Setelah Senja
Perubahan Pulau Rengit mulai terasa sejak 22 Agustus 2026, ketika sistem kelistrikan baru diresmikan. PT PLN (Persero) melalui PLN Puslitbang mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 78 kWp dengan Battery Energy Storage System (BESS), sistem hidrogen hijau, turbin angin, serta Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Sistem tersebut menjadi bagian dari Green Energy Ecosystem Technopark (GEET).
Di balik teknologi tersebut, terdapat satu gagasan penting: bagaimana energi matahari yang melimpah pada siang hari tetap dapat dimanfaatkan ketika malam tiba? Panel-panel surya menangkap cahaya matahari. Energi yang dihasilkan kemudian disimpan melalui sistem penyimpanan baterai dan didukung teknologi lainnya. Ketika cuaca mendung atau hujan mengurangi produksi energi surya, sistem terintegrasi membantu menjaga pasokan listrik tetap tersedia. Artinya, kehidupan warga tidak harus berhenti ketika matahari tertutup awan atau tenggelam di balik cakrawala.

Ade, salah seorang petugas teknis PLTS di Pulau Rengit, mengungkapkan bahwa terdapat enam orang yang bekerja untuk mendukung operasional pembangkit tersebut. Menurutnya, kondisi cuaca memang berpengaruh terhadap produksi energi surya. Namun, dukungan teknologi penyimpanan dan integrasi antar pembangkit membantu menjaga pasokan listrik bagi masyarakat. Dari sebuah fasilitas pembangkit di pulau itu, enam orang bekerja memastikan teknologi dapat memberikan manfaat bagi ratusan warga.
Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN, Edwin Nugraha Putra, mengatakan Pulau Rengit menjadi lokasi pertama technopark PLN yang resmi dioperasikan. Pengembangan tersebut sekaligus menjadi ruang pengujian teknologi energi hijau untuk wilayah kepulauan. “Dengan memanfaatkan energi surya, BESS, turbin angin, dan fuel cell hidrogen, kami berharap dapat meningkatkan efisiensi penyediaan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan pada pembangkit diesel,” kata Edwin saat peresmian.
Tantangan yang dijawab melalui proyek ini bukan perkara sederhana. Wilayah kepulauan membutuhkan pasokan energi yang andal, sementara distribusi bahan bakar dan operasional pembangkit diesel memiliki tantangan tersendiri. Sebelumnya, sistem PLTD berkapasitas 2 x 100 kilowatt menghasilkan energi sekitar 72 kilowatt hour per hari. Setelah sistem multi-energi terbarukan diterapkan, ketersediaan energi meningkat sehingga masyarakat dapat menikmati listrik sepanjang hari.
General Manager PLN Unit Induk Pembangkitan Dwipantara, Rita Triani, mengatakan integrasi panel surya, BESS, turbin angin, hingga fuel cell hidrogen juga mampu menekan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik dari Rp16.700 menjadi Rp12.300 per kWh. Potensi pengurangan emisi karbon diperkirakan mencapai sekitar 99,5 ton karbon dioksida per tahun. Angka-angka itu menunjukkan manfaat teknologi dari sisi operasional dan lingkungan. Namun, keberhasilan sebuah pembangkit pada akhirnya tidak hanya diukur dari kapasitas megawatt, efisiensi, atau penurunan emisi. Ukuran lainnya adalah perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Apakah anak-anak bisa belajar lebih lama? Apakah nelayan dapat menyimpan hasil tangkapan? Apakah pelaku usaha kecil memiliki kesempatan mengembangkan usahanya? Di Pulau Rengit, jawaban atas pertanyaan itu sudah terlihat.
Energi yang Membuka Pintu Masa Depan
Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, menyambut positif kehadiran GEET Technopark di Pulau Rengit. Menurutnya, manfaat paling nyata dari program tersebut adalah terbukanya ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk beraktivitas dan mengembangkan potensi ekonomi. Selama ini, warga Pulau Rengit hanya menikmati listrik sekitar 12 jam sehari. Kini, mereka mendapatkan layanan listrik sepanjang hari. Investasi pengembangan sistem tersebut mencapai sekitar Rp15 miliar.
“Ini juga menjadi tempat percontohan bagi pengembangan energi di seluruh Indonesia. Dengan adanya listrik 24 jam, kita berharap aktivitas masyarakat semakin berkembang, investasi masuk, dan potensi ekonomi di Pulau Rengit semakin terbuka,” kata Hidayat.
Harapan tersebut memiliki dasar yang kuat. Pulau Rengit memiliki laut dan hasil perikanan. Ada nelayan yang membutuhkan fasilitas penyimpanan hasil tangkapan. Ada pelaku UMKM yang membutuhkan listrik untuk mengembangkan usaha. Ada anak-anak yang membutuhkan penerangan untuk belajar. Namun, semua potensi itu membutuhkan satu hal mendasar: energi yang tersedia dan dapat diandalkan. Listrik 24 jam memang tidak serta-merta membuat masyarakat menjadi sejahtera. Masih ada pekerjaan rumah, mulai dari penguatan ekonomi, peningkatan keterampilan, hingga pengembangan infrastruktur pendukung.
Namun, kehadiran listrik membuka pintu yang sebelumnya sulit dijangkau. Nelayan memiliki waktu lebih panjang untuk mengelola hasil tangkapan. Pelaku UMKM memiliki kesempatan memperluas usaha. Anak-anak mendapatkan ruang belajar yang lebih baik. Bahkan, potensi pariwisata pulau pun memiliki peluang untuk berkembang seiring semakin andalnya infrastruktur dasar. Energi menjadi fondasi bagi perubahan berikutnya.
Dari Pulau Rengit untuk Indonesia
Pulau Rengit hanyalah sebuah titik kecil di peta Indonesia. Namun, cerita dari pulau ini berkaitan dengan agenda besar bangsa: membangun kemandirian energi sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih. Program tersebut menjadi bagian dari agenda nasional pembangunan PLTS 100 GWp yang dikoordinasikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi.

Presiden Prabowo Subianto menargetkan tambahan kapasitas PLTS sebesar 100 GWp dalam tiga tahun ke depan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian dan kedaulatan energi nasional. Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi atas peluncuran PLTS untuk bangsa Indonesia. Kepala Negara pun menyampaikan keseriusan atas program ini yang ditargetkan mencapai 100 gigawatt dalam 3 tahun. “Kita akan membangun 100 gigawatt. Kita tidak main-main, target kita adalah 100 gigawatt dalam 3 tahun,” kata Presiden.
Sementara itu, dalam laporannya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa program ini merupakan program strategis yang berdampak positif secara signifikan pada sejumlah aspek. Melalui program ini, pemerintah dapat melakukan penghematan APBN, penghematan diesel, penciptaan lapangan kerja, hingga penurunan emisi karbon.
“Total investasinya dari 100 gigawatt adalah kurang lebih sekitar USD73 miliar atau setara dengan Rp1.140 triliun lebih. Dari total pekerjaan ini bisa kita melakukan efisiensi terhadap subsidi setiap tahun Rp73,9 triliun, bisa menciptakan lapangan pekerjaan kurang lebih sekitar 5,52 juta lapangan kerja,” kata Menteri ESDM.
Mengawali program PLTS 100 GWp, selain di Pulau Rengit sebanyak 13 PLTS di 6 provinsi diluncurkan. Diantaranya PLTS Tembesi di Provinsi Kepulauan Riau, PLTS Pulau Sembur di Provinsi Kepulauan Riau, PLTS Saguling di Provinsi Jawa Barat, PLTS Waduk Gajah Mungkur di Provinsi Jawa Tengah hingga PLTS Site Gilimanuk di Provinsi Bali. Program ini, kata Menteri ESDM, merupakan kerja bersama dari seluruh pihak termasuk kementerian/lembaga lain, TNI, dan Polri dalam mendorong terlaksananya program. “Saya ucapkan terima kasih kepada TNI, Polri, dan seluruh kementerian/lembaga yang telah membantu mendukung sehingga acara ini bisa terlaksana,” ujar Bahlil.
Khusus di Bangka Belitung, pengembangan bauran energi angin dan matahari diharapkan mampu mengurangi konsumsi solar sekaligus menekan biaya pembangkitan listrik. Secara nasional, kapasitas pembangkit yang masih bergantung pada solar mencapai 12,6 GW. Jika percepatan energi terbarukan berjalan sesuai target, ketergantungan terhadap solar dan impor bahan bakar dapat ditekan. Program PLTS 100 GWp juga diproyeksikan mampu menurunkan emisi karbon sekitar 140 juta ton CO₂ per tahun jika seluruh program terimplementasi. Angka-angka itu terdengar besar. Bahkan mungkin sulit dibayangkan jika hanya dibaca melalui laporan dan presentasi.
Namun, di Pulau Rengit, makna transisi energi memiliki wajah yang nyata. Ada Fit, Darsin yang menyalakan senter sebelum menyusuri laut. Ada Sulaidi yang bercerita tentang anak-anak yang kini dapat belajar lebih lama. Ada Susi yang menjaga isi kepiting tetap beku agar hasil kerja nelayan tidak terbuang sia-sia. Ada Ade dan lima petugas lainnya yang memastikan pembangkit tetap bekerja. Dan ada muazin yang mengumandangkan azan dari Musala An Ni’mah. Merekalah wajah dari sebuah perubahan yang sesungguhnya.
Dua Belas Jam yang Mengembalikan Kehidupan
Sore mulai turun ketika kami bersiap meninggalkan Pulau Rengit. Matahari perlahan bergerak menuju cakrawala. Cahaya keemasan menyentuh permukaan laut. Perahu-perahu nelayan tampak mengapung di antara riak air. Di antara pepohonan kelapa dan sagu, monyet-monyet masih mencari makan. Rumah-rumah warga berdiri tenang, menunggu malam datang. Beberapa lampu mulai menyala. Tidak ada seremoni. Tidak ada panggung. Tidak ada tepuk tangan. Hanya kehidupan yang berjalan seperti biasa.
Namun, kehidupan biasa itulah yang kini memiliki arti berbeda. Dulu, malam di Pulau Rengit memiliki batas. Setelah 12 jam, listrik berhenti. Rumah-rumah menjadi gelap. Aktivitas yang membutuhkan energi harus ditunda hingga hari berikutnya.
Kini, batas itu perlahan menghilang. Dua belas jam tambahan telah kembali kepada masyarakat. Bukan sekadar tambahan waktu untuk menyalakan lampu, melainkan waktu untuk belajar, bekerja, menjaga hasil tangkapan, mengembangkan usaha, dan merencanakan masa depan. Matahari yang setiap hari terbit dan tenggelam kini memiliki peran baru dalam kehidupan warga. Cahayanya ditangkap panel-panel surya, disimpan melalui teknologi, lalu dimanfaatkan kembali ketika malam tiba.
Energi itu kembali kepada manusia dalam bentuk yang paling sederhana: lampu yang tetap menyala, freezer yang terus bekerja, blender yang berputar, dan senter nelayan yang siap menemani mereka mencari nafkah. Termasuk pengeras suara musala yang kini dapat mengumandangkan azan lebih jauh.
Saya kembali teringat suara azan muazin ketika pertama kali tiba di pulau ini. Suara itu mungkin terdengar biasa bagi orang-orang yang sejak lama menikmati listrik tanpa batas waktu. Namun, di Pulau Rengit, suara tersebut menjadi penanda bahwa sesuatu telah berubah. Bahwa malam tidak lagi harus berarti berhenti. Bahwa keterbatasan energi tidak selamanya menjadi batas bagi kehidupan.
PLTS mungkin dibangun dengan panel, baterai, turbin, dan teknologi hidrogen. Investasinya dihitung dalam miliaran rupiah. Keberhasilannya diukur melalui kapasitas pembangkit dan penurunan emisi karbon. Namun bagi masyarakat Pulau Rengit, keberhasilan itu memiliki ukuran yang jauh lebih dekat dengan kehidupan mereka. Seorang anak yang bisa belajar lebih lama. Seorang nelayan yang tak perlu terburu-buru menjual hasil tangkapan. Seorang ibu yang bisa menjaga dagangannya tetap layak jual. Dan sebuah keluarga yang tak lagi harus mengakhiri aktivitas hanya karena listrik padam.
Dua belas jam itu akhirnya kembali. Bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk membuka masa depan. Sebab, di Pulau Rengit, matahari bukan hanya menerangi siang. Melalui teknologi, cahayanya kini juga menjaga kehidupan ketika malam tiba. Dan ketika azan kembali terdengar di antara laut dan rumah-rumah penduduk, Pulau Rengit seolah sedang mengabarkan satu hal: harapan pun bisa menyala lebih lama, ketika energi hadir untuk semua. Terimakasih PLN. (**)

