Sungailiat — Ada semacam kebiasaan lama yang masih dipegang teguh Bambang Patijaya, mencari bakat bukan dengan menunggu, melainkan menjemput bola.

Ketua Umum Pengurus Provinsi Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini tak puas hanya menggelar turnamen demi turnamen di kepulauan timah ini. Ia menginginkan sesuatu yang lebih besar, sebuah ‘jembatan’, yang menghubungkan lapangan-lapangan voli kampung dengan panggung voli nasional.

‘Jembatan’ itu kini mulai berdiri. Lewat kerjasama yang dijalinnya dengan Samator, klub voli kenamaan dari Surabaya, Bambang Patijaya merancang semacam jaring penjaring bakat—talent scouting, begitu ia menyebutnya—yang disebar ke seantero Bangka Belitung.

Syaratnya sederhana saja, umur di bawah 20 tahun, tinggi badan tak kurang dari 185 sentimeter. Dua angka yang, di mata Bambang, adalah bekal utama seorang pemuda untuk kelak menjelma pevoli profesional.

“Saya sudah bikin perjanjian dengan Samator bahwa akan talent scouting sebagai calon atlet berbakat dan akan ditarik untuk pelatihan di Samator Surabaya,” katanya, menerangkan formulanya.

Dari jaring itu, tersangkut sebuah nama, Devin Fergio. Umurnya baru delapan belas tahun. Berpostur setinggi 193 sentimeter, lebih dari cukup untuk membuat Bambang Patijaya menunjuknya sebagai salah satu kandidat pertama yang ia ajukan ke Samator.

“Ini adik kita, Devin, tinggi 193 sentimeter, umur baru 18 tahun. Ini salah satu yang saya sudah sampaikan kepada Samator untuk di-talent scouting,” ujar Bambang Patijaya yang juga adalah Anggota DPR RI.

Devin, alumnus SMK Bakti Pangkalpinang, menaruh minat besar pada olahraga voli. Bergabung dengan klub Kapas, ia rutin berlatih. Kesempatan ikut talent scouting yang dihadirkan Bambang Patijaya ke Samator, membuka jalannya untuk menjadi pebola voli profesional.

“Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Bambang Patijaya karena telah memberikan kesempatan untuk seleksi di Samator,” kata Devin, singkat namun sarat rasa syukur.

Pemuda asal Desa Balun Ijuk, Merawang, ini pun bertekad untuk memberikan kemampuan terbaiknya dalam kesempatan yang telah didapat.

“Semoga saya bisa berlatih lebih keras dan lebih rajin lagi,” tambahnya, kalimat sederhana yang menyimpan tekad seorang pemuda yang tahu betul kesempatan semacam ini tak datang dua kali.

Bagi Bambang Patijaya, Devin cuma satu titik dari peta yang lebih luas. Liga Super PBVSI Babel, yang kini bergulir di tujuh kabupaten dan kota, ia bayangkan bukan sekadar gelanggang gengsi antardaerah. Ia menghendaki liga itu menjelma corong, tempat bibit-bibit unggul ditemukan, lalu dikirim ke luar Babel untuk digembleng, sebelum pada akhirnya—jika beruntung—pulang membawa nama besar bagi provinsi kepulauan itu.

“Mudah-mudahan dari Liga Super ini semua atlet-atlet kita yang bagus kita bisa kirim ke luar dan berprestasi, sehingga kemudian pada akhirnya akan kembali untuk mendukung tim Provinsi Bangka Belitung,” katanya.

Kejuaraan voli seri Bangka, yang Senin, 21 September lalu adalah babak finalnya, merupakan seri keenam dari rangkaian panjang liga tersebut, sebelum tuntas di seri penutup, Bangka Selatan. Juara pertama dan kedua dari tiap daerah kelak akan diadu dalam Grand Finale, pada pekan ketiga Oktober mendatang.

Dan bagi Bambang Patijaya, kisah Devin baru pembuka. Jika kerjasamanya dengan Samator berjalan mulus, akan ada lebih banyak lagi nama-nama serupa yang diangkat dari lapangan-lapangan voli Babel. Serupa basket yang telah memunculkan pebasket-pebaslet andal dari Babel. Ini membuktikan bahwa bakat, di manapun tumbuhnya, hanya menunggu seseorang yang mau membukakan jalan. Jalan itu kini telah dibuka Bambang Patijaya untuk para pebola voli muda Bangka Belitung. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *