Oleh: IBID SUDIARNO
Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung

Artificial Intelligence (AI) atau yang biasa dikenal dengan kecerdasan buatan, bukan merupakan hal yang asing di era modern saat ini. Menurut KBBI, Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence / AI) adalah teknologi yang dirancang agar sistem komputer dapat menjalankan fungsi-fungsinya menyerupai kecerdasan manusia, seperti mengambil keputusan, menyediakan dasar penalaran, dan karakteristik manusia lainnya. AI merupakan sebuah teknologi yang dapat melakukan tugas-tugas yang membutuhkan kecerdasan manusia, dirancang agar dapat menirukan kemampuan manusia untuk memecahkan berbagai macam masalah.

Sejak masa Pandemi Covid-19, Pemanfaatan AI di sektor pendidikan semakin meningkat dan mulai menjadi tren baru. Ketika saat itu penggunaan pembelajaran daring yang menjadi kebiasaan baru bagi guru di sekolah. Penggunaan AI dalam dunia pendidikan memunculkan banyak peluang dan menantang kesiapan sumber daya manusia (SDM). Guru dituntut untuk berubah agar bisa beradaptasi dan berkembang mengikuti perkembangan zaman, tak terkecuali guru di sekolah dasar.

Guru sekolah dasar menjadi ujung tombak dalam membentuk karakter dasar, literasi dan kemampuan berpikir anak. Berdasarkan UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, guru memiliki tanggung jawab profesional meliputi mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Selain itu, guru juga memiliki kewajiban untuk merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya secara berkelanjutan. 

Dalam menjalankan tugasnya di tengah perkembangan teknologi dan digitalisasi saat ini, guru dituntut untuk membuka diri terhadap inovasi dan perkembangan teknologi agar pembelajaran lebih efektif, relevan, dan menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik abad 21 tanpa menghilangkan nilai-nilai dasar pendidikan. Lantas, yang menjadi pertanyaan saat ini adalah “siapkah guru menghadapi AI?”

AI sebagai Alat Pendukung Pembelajaran

Pemanfaatan AI di dunia pendidikan menghadirkan banyak kemudahan yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar. Melalui aplikasi berbasis AI guru bisa membuat materi pembelajaran lebih kreatif dan menarik, menyesuaikan dengan gaya belajar masing-masing peserta didik. Teknologi ini juga dapat meringankan beban administratif guru, seperti koreksi ujian, pengumpulan tugas, dan dapat membuat laporan serta analisis terhadap perkembangan belajar peserta didik.

Penggunaan AI dalam pembelajaran dapat memberikan kemudahan bagi guru, sehingga guru memiliki kesempatan lebih banyak untuk berinteraksi langsung dan berfokus pada peserta didik. Selain itu, AI juga menjadi sarana bagi guru untuk meningkatkan kompetensi dirinya dengan mengikuti pelatihan daring, diskusi virtual, hingga mencari tambahan informasi lainnya yang dapat mendukung proses pembelajaran di sekolah. Semua uraian tersebut merupakan peluang besar bagi dunia pendidikan di sekolah jika AI digunakan secara optimal.

Tantangan: Kesenjangan Kompetensi dan Ketakutan akan Perubahan

Permasalahan yang terjadi di lapangan saat ini adalah belum semua guru di sekolah siap dan mampu mengikuti perubahan. Masih terdapat guru yang belum menguasai teknologi digital, terutama guru yang “sepuh” dan yang berada di wilayah tertentu belum begitu terbiasa memanfaatkan teknologi untuk kepentingan pembelajaran apalagi menggunakan AI. Hal ini juga dapat dijumpai di sekolah penulis, kebetulan penulis adalah seorang guru, ada beberapa orang guru “sepuh” yang belum terampil menggunakan perangkat teknologi dalam pembelajaran. Dengan demikian, penggunaan AI belum bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

Selain itu, kondisi wilayah juga menentukan, di Provinsi Bangka Belitung khususnya di Kabupaten Bangka masih terdapat beberapa sekolah yang “blank spot” sehingga di sekolah tersebut penggunaan AI untuk pembelajaran sulit untuk diaplikasikan. Faktor lainnya yang menjadi kendala penggunaan AI dalam pembelajaran adalah keterbatasan fasilitas yang ada, kurangnya pelatihan bagi guru yang menyebabkan rendahnya literasi digital. Tanpa adanya dukungan fasilitas dan pelatihan bagi para guru, penggunaan AI hanya bisa menjadi beban bahkan menciptakan kesenjangan baru dalam dunia pendidikan.

Strategi Pengelolaan SDM yang Adaptif dan Berkelanjutan

Untuk pengelolaan SDM pendidikan yang lebih baik harus disusun dengan strategi yang tersistem dan terstruktur, perlunya dukungan dari pemerintah atau institusi pendidikan itu sendiri. Selain pengadaan infrastruktur dan fasilitas, pelatihan serta bimbingan tentang penggunaan AI untuk pembelajaran bagi guru sangat diperlukan, agar guru lebih terampil dalam memanfaatkan teknologi digital untuk dunia pendidikan. Tak hanya itu, perlu juga dibekali tentang etika penggunaan teknologi, perlindungan data, hingga penguatan nilai-nilai kemanusiaan dalam pembelajaran digital.

Penguasaan dan penggunaan teknologi untuk pembelajaran merupakan salah satu cara untuk mengelola SDM pendidikan di era AI, tetapi perlu diikuti dengan keberanian untuk terus belajar, berubah, dan komitmen untuk tetap mengedepankan nilai-nilai dasar pendidikan. Guru harus terus belajar dan meningkatkan motivasinya agar siap menghadapi masa depan. Guru perlu diberikan motivasi dan semangat untuk menjadi pribadi yang adaftif, reflektif, dan trasnpormatif.

AI pada dasarnya hanyalah sebuah pendukung untuk membantu proses pembelajaran. Kehadiran guru tidak bisa tergantikan oleh AI, karena peserta didik perlu bimbingan, motivasi, serta butuh perhatian yang bisa diperoleh dari guru, bukan dari teknologi. Guru tetap menjadi ujung tombak pendidikan yang mengelola peserta didik menjadi lebih baik. Pemanfaatan kemajuan teknologi hanya sebagai penunjang untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat bersaing dan berguna bagi masa depan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *