Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bangka beberapa bulan lagi digelar. Bendera-bendera partai sudah dikibarkan mencari arah angin kencang dalam menjaring kiblat bacalon bupati dan wakil bupati kemana singgahnya. Bacalon bupati pun sudah mulai bergerak blusukan, dalam kemasan silahturahmi mencari dukungan.

Tim-tim sukses pun bersliweran diantara hiruk pikuk gesekan menawarkan bacalon dengan segala kelebihan dan kekurangan. Meski tak terbantahkan semangat maju tak gentar (membela yang bayar) tetap dalam genggaman. Toh pada intinya mencari simpati dari masyarakat, bahwa bacalonnya hebat, sangat merakyat sekali, peduli dengan masyarakat serta memiliki komitmen membangun daerah ini. Kita juga tidak tahu merakyatnya gimana? Bentuk kepeduliannya seperti apa? Apa kalau sudah jadi bupati nanti juga merakyat dan tetap peduli? Memang paling mudah memberi harapan, namun juga paling mudah melupakan harapan.

Kenyataan diatas pada hakekatnya bukan fenomena baru yang muncul pada setiap pemilihan kepala daerah, namun sudah menjadi budaya. Kalau toh akhirnya muncul istilah main dua kaki, seratus kaki itu bukan persoalan baru. Tapi sekedar menikmati lagu lama yang masih enak didengarkan.

Walaupun fakta hitung hitungan matematika politik, sepertinya petahana dalam posisi yang diuntungkan, melihat lawan kandidat bacalon bupati yang bakal maju. Dasarnya kita belum melihat dengan jelas, sepak terjang lawan yang bakal dihadapi. Untuk itu simpelnya mau dipasangkan dengan siapapun petahana tetap unggul. Bahkan lawan pakai kendaraan apapun petahana tetap paling depan  di arena pemilihan kepala daerah nantinya. Meski lawannya pakai Ferrari, bahkan Lamborghini pun rasanya susah untuk menggeser petahana.
Yang bener saja? Siapa bilang petahana kuat? Memangnya petahana tidak bisa dikalahkan? Tunggu jangan emosi dulu?  Persoalannya karena kondisi memang menguntungkan bagi petahana.

Yang pertama, tanpa pasang baleho sekaputpun, masyarakat sudah mengenal. Lalu perolehan suara pada pilkada sebelumnya, dari 8 kecamatan, 7 kecamatan memilihnya. Kemudian menilik data KPU Bangka pada pemilihan kepala daerah tahun 2018,  pasangan Mulkan – Syahbudin meraih 59.304 suara (48, 66) persen dan Tarmizi Saat – Amri Cahyadi memperoleh suara 34.706 suara (28, 48) persen serta pasangan Kemas Daniel – Fadillah Sabri meraih 27.864 suara (22.86) persen.

Okelah pada pilkada nanti, pemilih petahana berkurang separo. Dengan dasar ada pemilih tidak suka lagi atau mungkin persoalan lain yang mendasari para pemilih berpaling pindah ke lain hati, baik dikalangan PNS maupun barisan kelompok sakit hati. Gimana itu? Iya tidak apa-apa, hal yang wajar pro kontra muncul. Pastinya petahana masih mengantongi modal separo suara dari kemenangan pilkada sebelumnya. Lumayan untuk bekal maju berebut kursi Bangka satu. Sedang lawan petahana  memiliki modal suara tidak?

Nah, tidak perlu ada jawaban, kita tunggu saja gol terakhir ini pada kegigihan lawan-lawan petahana dalam bergerak blusukan menyambangi pemilik-pemilik partai serta kepiawaian timses masing-masing merayu warga masyarakat.

Tunggu sebentar? Memungkinkan tidak petahana keluar dari kandang banteng, karena didalam kandang panas terjadi gesekan sesama kader yang membuat blunder persoalan? Waduh! Rasanya berat menjawab, meski tidak terbantah hal itu bisa saja terjadi dan juga tidak terjadi. Semoga tidak demikian? Semoga. (heru sudrajat).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *