Kisah Anak-anak Nelayan Desa Celagen, Kepulauan Pongok Menerjang Ombak dan Bertaruh Nyawa untuk Sekolah

Siswa SMAN 1 Kepulauan Pongok yang berasal dari Desa Celagen menaiki perahu untuk sampai ke sekolah. Foto : ist/Dok Pribadi

Laporan : Hairul / Kabarbabel.com / Kepulauan Pongok

Pagi itu masih buta. Matahari belum juga menampakkan diri. Namun Ananta, sudah mulai beranjak dari peraduan. Mandi. Salat Subuh. Lantas membantu sang ibu di dapur. Tak lama, karena ia juga harus mempersiapkan diri ke sekolah.

Buku-buku pelajaran mulai dimasukkan ke tas. Begitu juga sepasang sepatu. Sebelum dimasukkan ke tas, buku dan sepatu harus terlebih dahulu dimasukkan ke dalam plastik. Ananta adalah siswa SMAN 1 Kepulauan Pongok yang berasa dari Desa Celagen. Desa ini merupakan satu dari dua desa yang ada di Kecamatan Kepulauan Pongok, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung. Letaknya hanya selemparan batu dari kecamatan. Luasnya 356 hektare.

Namun, akses satu-satunya bagi 1.387 jiwa yang bermungkim untuk mencapai kecamatan, hanyalah melalui laut. Transportasi yang digunakan disebut Ketek. Perahu yang biasa digunakan untuk mengangkut kebutuhan barang-barang seperti sembako dan lainnya. Tak ada transportasi lain. Akses transportasi inilah yang dimanfaatkan Ananta untuk mencapai dan pulang sekolah. Setiap hari. Pagi dan sore.

Ananta tidak sendiri. Setidaknya ada 70 anak yang bersekolah di Kepulauan Pongok. 30 diantaranya bersekolah di SMAN 1 Kepulauan Pongok. Sedangkan sisanya, ada yang bersekolah di sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama. Baik SD, SMP maupun SMA, merupakan satu-satunya sekolah negeri yang dimiliki oleh Kabupaten Bangka Selatan di Kecamatan Kepulauan Pongok. Tak ada sekolah swasta disana. Oleh karena itu, tak ada pilihan lain bagi Ananta untuk menuntut ilmu.

Untuk mencapai sekolah, bukanlah perkara mudah. Ananta menceritakan, ia dan rekan lainnya seperti Rice, Dilfa, Tiara dan lainnya harus terjun ke laut terlebih dulu dari dermaga sebelum mencapai Ketek. Ini biasa dilakukan saat air laut surut. Ketek, tidak bisa merapat ke dermaga. “Nah untuk turun itu loncat gitu saja. Tidak ada tangga awalnya. Baru-baru ini saja dibuat. Terus kita berjalan sampai ke gusung sebelum mencapai Ketek,” ujar Ananta. Hal ini lah menjadi jawaban, mengapa buku dan sepatu siswa kelas XII ini harus dimasukkan ke dalam plastik. Agar tidak basah.

Kondisi ini menurut Ananta memprihatinkan. Apalagi saat pulang ke rumah. Ia harus memanjat tiang dermaga. Tingginya mencapai 1,5 meter. “Kan gak ada tangga. Kalau pergi sekolah kita terjun ke laut dulu. Nah kalau pulangnya, kita manjat tiang dermaga,” ujarnya. Maka menurut dia, tak jarang saat memanjat tiang dermaga ada yang terpeleset hingga tercebur ke laut. “Ya basah kalau kecebur,” ujarnya diamini rekan lainnya.

Dermaga yang disebut Ananta, adalah dermaga kayu. Kondisinya dapat dibilang cukup memprihatinkan. Mulai rapuh. Dimakan usia. Juga deburan ombak. Persoalan lain dialami Ananta dan lainnya ialah saat Ketek tidak beroperasi. Jumlah Ketek memang tidak banyak. Hanya ada 3 Ketek. Mensiasati hal itu, ia biasanya menaiki Ketok. Semacam sampan yang menggunakan dayung.

Bukan perkara mudah menurut Ananta untuk mendayung sampai ke tujuan. Apalagi, laut Pongok-Celagen kedalamannya mencapai 10 meter. Belum ditambah dengan ombak dan arus yang cukup kuat. Tentu hal ini mengancam keselamatan mereka. “Kalau gak ada Ketek, pas ada kegiatan di sekolah kita pulang malam misalkan maka kita untuk mencapai rumah biasanya menggunakan Ketok. Dayung ramai-ramai,” ceritanya.

Deburan ombak di lautan menjadi “teman” yang mengiringinya pergi dan pulang sekolah. Meski Ketek dan Ketok yang dinaikinya tidak ada baju pelampung, Ananta mengaku tidak pernah tebersit rasa takut dalam benaknya. Bahkan, tak jarang ia berdiri di ujung Ketek. Layaknya adegan Film Titanic. “Bayarnya Rp 1.000 untuk berangkat dan pulang. Kalau orang biasa Rp2.000. Tidak jauh, sekitar 5 menit sudah sampai ke Pongok,” ujarnya.

Ananta yang merupakan Ketua OSIS ini menyebutkan, Ketek hanya beroperasi sampai pukul 18.00 WIB. Selebihnya, transportasi yang digunakan adalah Ketok. Meski tergolong banyak duka, Ananta mengaku, tak sedikitpun menyerah dengan keterbatasan. Bagi dia, hal tersebut bukan menjadi penghalang untuk menimba ilmu. “Mencari ilmu itu sesuatu yang wajib. Meski kami anak-anak nelayan dan terluar tapi kami mempunyai semangat. Kami tidak kalah dengan anak-anak di kota sana,” kata dia.

Niat menyongsong masa depan tak akan goyang walau dengan keterbatasan. Sebab, tujuan membanggakan orang tua dan meraih cita-cita ada di depan mata. Terbukti, Ananta selain menjadi Ketua OSIS, juga pernah mewakili sekolah dalam Kawah Kepemimpinan Pelajar Nasional (KKPN) di Bogor. “Orang tua selalu mensuport kami untuk belajar dan berprestasi di sekolah,” kata dia.

Ini ditunjukkan dari kegigihan orang tua dalam mencukupi semua kebutuhan untuk sekolah. Meski, hanya berpenghasilan sebagai nelayan. “Penghasilan nelayan tidak menentu. Tapi ndak pernah orang tua mengeluh tidak ada duit atau apa. Selalu ada bagi kami untuk keperluan sekolah,” ucapnya.

Selain itu, para orang tua juga tidak pernah memaksa anak-anaknya membantu mencari ikan. Waktu membantu orang tua hanyalah saat libur sekolah. Pernah menurut Ananta, ia suatu waktu pergi ke bagan mencari ikan. Namun, saat pagi tiba, sang ayah lantas mengingatkan dirinya untuk bersekolah. “Ya diantar ayah ke sekolah. Tidak ada alasan untuk tak bersekolah. Pendidikan itu nomor satu,” kenangnya.

Ananta sendiri memiliki cita-cita menjadi pengusaha. Ia memiliki mimpi saat lulus nanti, melanjutkan pendidikan di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. “Pengen ngambil jurusan manajemen bisnis di UGM. Saya pengen jadi pengusaha sukses,” kata dia. Lewat Ananta pula diketahui, hampir 40 persen anak-anak di Celagen melanjutkan pendidikan di universitas. Baik itu di Kota Pangkalpinang maupun Jawa.

Tetap Semangat

Duha Agusta, guru Bimbingan Konseling SMAN 1 Kepulauan Pongok mengakui, semangat para siswa untuk menimba ilmu layak dicontoh. Meski secara letak geografis berada di luar, Duha menyebutkan semangat mereka tak pernah pupus. “Anak-anak di sini, semangat pergi ke sekolah. Banyak teman bermain. Tidak seperti di kota yang sudah kenal dengan game di gadget atau jalan-jalan ke mal. Kalau di Kepulauan Pongok tidak ada mal,” kata Duha.

Duha mengaku bangga dengan semangat bersekolah para siswa, khususnya yang berasal dari Celagen. Meski terpisahkan laut, mereka pantang menyerah dan tetap semangat datang ke sekolah. “Perekonomian disana beragam tapi sebagian besar bergantung terhadap hasil laut,” tambahnya.

Dia sendiri awalnya mengaku cukup stres saat kali pertama datang. Namun, saat melihat semangat para siswa, hal itu hilang seketika. “Rumah saya di Sungailiat, Kabupaten Bangka ketika masuk sini ya jauh berbeda dengan disana. Tapi dengan keramahan warga disini dan semangat para siswa, membuat saya betah mengajar,” ujarnya.
Duha mengaku, Kepulauan Pongok memang terluar secara geografis tetapi jiwa dan semangat untuk eksis berprestasi itu selalu ada. “Saya selalu tanamkan kepada para siswa saya tidak apa-apa jadi anak nelayan asal sarjana semua,” jelasnya.

Sementara, Kepala Bidang Pembinaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bangka Selatan Firman mengakui, di Desa Celagen hanya terdapat satu sekolah dasar. “Untuk penambahan sekolah seperti SMP atau SMA belum ada rencana dan tidak perlu ada penambahan sekolah. Kalaupun ada, hanya penambahan ruang kelas karena antara jumlah siswa dengan room tidak terpenuhi. SD saja minimal 20, maksimal 28 dan siswa yang masuk kadang tidak sampai 28 orang,” kata dia.

Firman menambahkan, pihaknya selalu berkoordinasi dengan aparat pemerintahan disana agar tidak ada yang putus sekolah. “Kami selalu berkoordinasi dengan sekolah, pemerintah kabupaten kan juga memiliki program ‘Sekolah Agik’ agar anak-anak di Basel tidak putus sekolah. Maka anak-anak kurang mampu difasilitasi dengan kelengkapan belajar,” tutupnya.(**)

About kabarbabel 2395 Articles
Portal Berita Bangka Belitung Masa Kini

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.