Perjalanan Hidup Nenek Maryani yang Memiliki Anak Down Syndrom, Hidup Serba Kekurangan

Mely, Maryani dan anaknya saat di kediaman Mely. IST

MEMILIKI anak down syndrome tak pernah diinginkan semua orangtua di dunia ini. Namun nenek Maryani (63) harus menghadapi kenyataan memiliki anak dengan kebutuhan khusus.

Nenek Maryani asli orang Bangka, dilahirkan di desa Kemuja Kecamatan Mendo Barat. Kemudian mendapatkan jodoh seorang suami asal Rappang, Kabupaten Sindreng Rappang, Sulawesi Selatan lalu tinggal bersama suaminya di daerah asal suami.

Keduanya sempat tinggal di Bangka pada waktu itu, sang suami mencoba peruntungan dengan menjadi nelayan. Namun hasil tangkapannya tak memenuhi harapan, sedangkan untuk bekerja di bidang lain ia tak memiliki keahlian.

Suami dan dirinya memutuskan untuk kembali ke daerah asal sang suami, Rappang, Sulsel. Maryani tak memiliki pilihan dan tidak ragu sedikitpun dan mengikuti suaminya pulang ke Rappang.

Kepergiannya ke Rappang memaksa Maryani meninggalkan anak angkatnya, Mely. Selama 20 tahun Maryani meninggalkan Mely di Bangka untuk mengikuti sang suami tinggal jauh dari kampung halamannya.

Saat tinggal bersama sang suami di Rappang, tidak terlintas di hati Maryani untuk kembali ke tanah kelahirannya meskipun hidup dalam kondisi serba sulit dan kekurangan. Nenek Maryani sangat cinta dan setia dengan suaminya.

Dari pernikahan, Maryani dikaruniai Allah seorang anak yang kebetulan berkebutuhan khusus, boleh dibilang down syndrome. Saat ini telah berusia 33 tahun, tapi kelakuannya masih seperti anak kecil.

Anak nenek ini bernama Iskandar. Belakangan tidak bisa berbicara, seperti bisu. Padahal sebelumnya aktif berbicara meski cadel. Perubahan itu menyusul pasca pengobatan kelainan prilakunya yang sering mengamuk. Maryani curiga penyebab kebisuan anaknya akibat terlalu banyak mengonsumsi obat penenang.

Perjalanan pahit hidup nenek Maryani rupanya bertambah menyusul meninggalnya sang suami. Maka hiduplah dia bersama anaknya dalam keadaan seperti itu.

Dalam keadaan yang sangat sulit itu nenek Maryani bersama anaknya tinggal di pos ronda malam, karena almarhum suaminya belum sempat membangun sebuah rumah kecil sekalipun.

Namun Maryani memaklumi itu, karena suaminya hanya seorang pengemudi becak. Diakhir hidupnya, suami Maryani tak kuat lagi menjadi mengayuh becaknya. Lalu ia menggantikan peran suaminya menjadi tulang punggung keluarga dengan menjadi pembantu rumah tangga.

Dalam kehidupan yang sulit tersebut, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari banyak dibantu tetangganya di Rappang. Hingga pada suatu hari Maryani jatuh sakit. Beruntung banyak orang di Rappang berempati terhadap nasib malang seorang Maryani.

Bahkan mereka berupaya mencari tahu asal-usul Maryani yang ternyata asli Bangka tersebut. Melalui medsos Facebook, mereka memposting foto dan informasi tentang Maryani. Dalam postingannya, Maryani mencari keluarganya di Bangka.

Tak hanya melalui medsos, mereka juga menghubungi penduduk Bangka keturunan Sulawesi Selatan yang ada di Bangka. Bersyukur usaha itu membawa hasil. Postingan di Facebook itu menemukan anak angkatnya yang bernama Nurmely yang tinggal di Bangka.

Bahkan biaya kepulangan Maryani dan anaknya ke Bangka juga diusahakan para tetangga Maryani di Rappang. Para tetangga dan masyarakat lainnya memberikan bantuan untuk membelikan tiket pesawat hingga sampai di Pulau Bangka.

Maryani dijemput Mely di Bandara Depati Amir Pangkalpinang. Sejak setahun lalu nenek Maryani telah kembali dan tinggal bersama anak angkatnya di Bedeng Ake, Sungailiat setelah terpisah selama 20 tahun.

Malang tak dapat ditolak dan untung tak dapat diraih. Kini Maryani dan anaknya tidak ada pilihan tinggal bersama Mely yang kebetulan juga berkondisi tak jauh berbeda dengan dirinya yang serba kekurangan.

Mely kesehariannya adalah pelimbang timah, sementara Maryani yang sudah sakit-sakitan dan anaknya hanya bergantung pada Mely. Meski begitu Mely ikhlas menerima kehadiran ibu angkatnya. Mely tak pernah mengeluh atas kehadiran Maryani dan anaknya.

Ia merasa Maryani seperti ibunya sendiri, Mely diasuh Maryani dari kecil sejak ibu kandungnya meninggal dunia. Banyak diceritakan keluarganya bahwa Maryanilah dulu yang membesarkan Mely, mengasuhnya menggantikan peran ibu kandungnya.

Sungguh ironis ketika mereka terkumpul, Maryani dan anaknya yang down syndrome dengan anak angkatnya Mely yang memiliki dua anak serta suaminya Agus, hidup dalam keadaan serba kekurangan hingga menyentuh hati setiap orang yang mengenalnya. (red/kbc)

About kabarbabel 1398 Articles
Portal Berita Bangka Belitung Masa Kini

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.