Terkait Imbauan Pemerintah untuk Salat Ied di Rumah, Begini Tanggapan Sekretaris MUI Babel

Sekretaris MUI Babel Ahmad Luthfi. IST

PANGKALPINANG, KABARBABEL.COM – Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (Sekum MUI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Ahmad Luthfi menyebutkan melaksanakan salat Idulfitri di rumah tidak mengurangi pahala dari sholat.

Hal tersebut diutarakan Ahmad Luthfi menanggapi anjuran pemerintah provinsi agar umat muslim melaksanakan salat Idulfitri di rumah masing-masing.

“Pelaksanaan salat Idulfitri sunnah muakkad, artinya sunah yang sangat dianjurkan pelaksanaannya bisa berjamaah dan bisa juga munfarid  atau sendiri,” kata Ahmad Luthfi usai rapat bersama Forkopimda Babel, Selasa (19/5/2020).

Masyarakat selayaknya menghormati sikap pemerintah daerah yang mengimbau pelaksanaan salat Idulfitri di rumah, sesuai kebijakan pemerintah pusat sudah sepatutnya dilaksanakan warga masyarakat.

“Kami menghormati keputusan pemerintah daerah, artinya tidak melaksanakan seperti biasa yang dikoordinir oleh pemerintah daerah di lapangan, mudah-mudahan wabah ini segera berakhir,” sebut Ahmad Luthfi.

Pelaksanaan salat ied di rumah, jelas Ahmad Luthfi, sama seperti pelaksanaan di masjid. Yang membedakan bila di masjid ada khutbah, sedangkan bila di rumah diatur dalam fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2020.

Fatwa tersebut merupakan fatwa terbaru masalah petunjuk teknis pelaksanaan salat Idulfitri, mulai dari takbir termasuk teknis pelaksanaan khutbahnya itu sudah diatur.

“Jadi kalau kita laksanakan di rumah, kalau berjamaah minimal ada empat orang, ada laki-laki bukan perempuan semua, pelaksanaan dengan seringkas-ringkasnya,” jelas Ahmad Lutfi.

Sedangkan jika dilaksanakan sendiri, bacaan salat lebih dipelankan, tata caranya sama dengan pelaksanaan salat di masjid, dua rakaat, rakaat pertama tujuh kali takbir, dan kedua lima kali takbir.

“Jika jumlah jamaah kurang dari empat orang atau jika dalam pelaksanaan salat jamaah di rumah tidak ada yang berkemampuan untuk khutbah, maka shalat Idulfitri boleh tanpa khutbah,” tambah Ahmad Luthfi.

Ia mengimbau bila melaksanakan salat Idulfitri di lapangan, harus mematuhi  protokol kesehatan Covid-19. Diantaranya shaf salat hingga 2 meter, hal ini menurutnya pernah terjadi pada zaman Rasulullah SAW.

“Di zaman Rasulullah dulu ada jamaah yang terkena wabah, pelaksanaan salat juga dikasih jarak, pada dasarnya tidak ada masalah kalau misalnya boleh sampai 30 hasta jaraknya,” papar Ahmad Luthfi.

“Selain itu, aturan lain yang harus dipatuhi adalah menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, anak-anak dan orang yang sakit tidak diperbolehkan ikut,” tandas Ahmad Luthfi. (red/kbc)

About kabarbabel 2040 Articles
Portal Berita Bangka Belitung Masa Kini

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.