Nelayan dan Pemuda Matras Kontra KIP Nyatakan Pemerintah Takut dengan Pengusaha

*Bantah Kalau KIP Tidak Rusak Ekosistem Laut

SUNGAILIAT, www.kabarbael.com – Terkait statment Kadistamben Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bahwa aktifitas Kapal Isap Produksi (KIP) di perairan laut daerah yang katanya tidak merusak ekosistem dan terumbu karang perairan laut Bangka dibantah keras oleh nelayan. Khususnya oleh sejumlah nelayan tradisional di Lingkungan Matras, Kelurahan Matras, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka.

Kepada sejumlah wartawan, Syamsul Saleh salah satu perwakilan nelayan tradisional lingkungan Matras ‎yang kontra penambangan laut oleh KIP ini mempertanyakan statment yang dikeluarkan oleh Kadistamben Provinsi tersebut.

“Yang dikatakan dak ngerusek dimane. Buktinya, gara gara KIP, karang-karang tertimbun lumpur, air keruh dan nelayan susah mencari ikan,” kata Syamsul disampingi rekan-rekannya di Pantai Teluk Pikat Matras, Rabu (6/12/2017).

Menurutnya, sebelum adanya aktifitas penambangan laut oleh KIP baik KIP milik PT Timah maupun mitranya ada, hasil tangkap nelayan tradisional dan nelayan pesisir daerah bisa mencukupi untuk kebutuhan hidup keluarganya. Namun setelah KIP melakukan penambangan di perairan laut Bangka, hasil tangkap nelayan tradisional dan pesisir daerah ini menurun drastis.

“Ini dikarenakan karang karangnya tertimbun lumpur dan biota laut itu mati semua gara gara aktifitas Kapal Isap ini‎,” sebutnya.

Untuk itu ia memastikan aktifitas Kapal Isap Produksi di perairan laut Bangka membawa dampak yang buruk bagi kelangsungan hidup nelayan daerah ini.

“Jadi kalau mereka ngate dak de dampak bagi nelayan itu salah besar,” tegasnya.

Selain hasil tangkap berkurang, nelayan kontra KIP daerah ini harus menempuh jarak yang cukup jauh saat melaut.

“Kalau ini kita biarkan, anak cucu kita nantinya tidak bisa lagi menikmati keindahan alam bawah laut di perairan daerah ini karena sudah tertimbun lumpur,” keluhnya.

Atas statmen yang dilontarkan tersebut nelayan kontra KIP menantang pihak terkait untuk bersama sama ‎melihat kerusakan alam bawah laut terkait aktivitas KIP tersebut.

“Jadi bagi orang yang ngate dak de dampak a dan dak menghancurkan laut, salah besar tu. Kalau nek bukti, yo kite same same nyelem ke dalam laut, berani dak,”tantangnya.

Ditambahkannya, kerusakan karang karang pesisir pantai daerah ini cukup memprihatinkan. Sedimentasi lumpur hasil ekploitasi penambangan laut oleh KIP di perairan laut daerah ini ketebalannya mencapai 1 sampai 2 meter.

“Bayangkan dari depan Rebo sampai depan Parai, kerusakannya mencapai 75 persen ‎dan ini cukup parah. Seperti didepan Parai untuk ketinggian lumpurnya mencapai 1.5 meter. Tapi kalau di depan Tanjung Pesona itu dak usah ditanya agik, karena sampai 2 meter dan kalau dekat KIP itu beroperasi, ketinggian lumpur a sampai 6 hingga 7 meter,” jelasnya.

Untuk itu ia berharap kepada Gubernur Kepulauan Bangka Belitung untuk menghentikan aktivitas KIP yang telah merusak perairan laut daerah ini.

“Tolong perhatikan kami dan jaga laut ini yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita nantinya,” harapnya.

Sementara, Riesta alias Mandor, tokoh pemuda Lingkungan Matras yang juga kontra dengan penambangan laut menegaskan menolak adanya bentuk penambangan laut oleh KIP yang akan melakukan penambangan di dekat perairan laut Matras dan sekitarnya.

Bentuk penolakan terhadap aktifitas penambangan laut oleh KIP di perairan laut Bangka merupakan harga mati yang tidak bisa ‎dinego oleh pihak manapun.

Pemuda setempat yang kontra KIP juga mengapresiasikan bentuk penolakan penambangan laut yang terjadi di sejumlah daerah yang ada di daerah ini.

“Karena KIP ini membawa dampak yang luar biasa yakni merusak lingkungan dan membuat hasil tangkap nelayan daerah ini berkurang,” katanya.

Dalam hal ini, ia menganggap para pemangku jabatan di daerah ini terkesan menutup mata dan tidak berpihak kepada rakyatnya.

“Bahkan Gubernur pun tidak berani dan tidak tegas mengambil langkah langkah untuk menghentikan aktivitas KIP ini karena mereka takut dengan pengusaha KIP itu,” katanya.

Jadi kata dia, sudah sewajarnya jika Kabupaten Belitung mengecam dan mengancam untuk pisah dari Babel atas dasar ketidaktegasan pemerintah daerah ini dalam menyikapi permasalahan yang terjadi. (rif).

About kabarbabel 2042 Articles
Portal Berita Bangka Belitung Masa Kini

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.