Banjir Beltim-Belitung, Sudah Waktunya Pikirkan Lingkungan

*Gapabel Menikai Tambang, HTI, Perkebunan Besar Penyumbang Utama Banjir

TANJUNGPANDAN – Maraknya aktivitas tambang, penebangan Hutan, serta pembukaan lahan-Lahan untuk perkebunan besar dan Hutan Tanaman Industri yang dilakukan secara sporadis, ditambah banyaknya perusahaan yang belum melakukan reklamasi lingkungan Pasca tambang, dinilai menjadi penyebab utama terjadinya banjir besar yang melanda hampir separuh Pulau Belitung. Terutama kawasan Belitung Timur, dan sebagian di Kabupaten Belitung

“Akibat Kegiatan tersebut jelas menjadi memicu pendangkalan dan penyempitan daerah-daerah yang menjadi tempat penampungan air. Apalagi pertambangan yang dilakukan di sepanjang sungai yang semakin mempercepat proses sedimentasi (Pendangkalan),” kata Ketua Gabungan Pecinta Alam Belitong Pifin H. kepada www.kabarbabel.com, Sabtu (21/7/2017).

Gapabel menyatakan, seharusnya pemerintah lebih tegas melakukan penertiban lokasi yang jelas-jelas dilarang dalam peraturan perundang-undangan seperti maraknya aktifitas TI Rajuk di kawasan Sungai Lenggang.

“Kita seharusnya berpikir bahwa bencana banjir adalah salah satu bencana yang kadang diakibatkan perilaku manusia yang tidak menghargai lingkungan,” kecam pria yang disapa Tilenk ini.

Belum lagi pembukaan Lahan untuk Hutan Tanaman Industri dan perkebunan besar yang luasannya ribuan hektar bahkan puluhan ribu hektar sehingga merusak fungsi daerah serapan air. Apalagi Belitung merupakan pulau kecil yang luasan hutannya tidak terlalu besar namun begitu banyak lahan lahan dijadikan kawasan perkebunan besar.

Ia mengingatkan, semua pihak jangan terlalu banyak menunggu dan terkesan membiarkan kerusakan terus terjadi. Sudah saatnya pemerintah mengkaji ulang kebijakan kebijakan yang tidak pro terhadap lingkungan, menagih janji pengusaha untuk melakukan reklamasi yang memang sudah seharusnya dilakukan.

Dan yang tidak kalah penting adalah para pengusaha dan masyarakat yang berada di luar sektor tambang dan perkebunan besar juga harus berperan dengan melihat dan mempertimbangkan aspek daya dukung dan daya tampung lingkungan ketika akan membangun suatu bangunan baik kantor ruko, rumah maupun kawasan perumahan.

Segala sektor sudah seharusnya dibenahi sebab dampak bencana banjir ini sangat luas baik kerugian materil maupun iinmateril. Banyak akses jalan dan jembatan yang hancur dan putus dan biaya perbaikannya sangat mahal dan sangat tidak sebanding dengan kebijakan kebijakan yang diambil dalam mempermudah perizinan-perizinan yang tidak pro lingkungan.

“Keberanian kita untuk menindak tegas aktivitas pertambangan terutama yang illegal, yang menjadi penyebab utama terjadinya banjir. Belum lagi alur sungai yang menyempit dan tertutup tidak mampu menahan derasnya air hingga meluap ke lokasi pemukiman dan merusak banyak infrastruktur ,” tegasnya.

Pola kebijakan yang konfrahensif Gapabel anggap harus menjadi pilar utama dalam proses pembangunan sehingga keseimbangan alam dan lingkungan terus terjaga.

“Jangan sampai kita selalu menyalahkan Tuhan padahal pola dan tingkah laku kita sebagai penyebab utama bencana tersebut. Juga tak kalah penting yaitu mencari solusi terbaik dan tidak terkesan mencari pembenaran atas apa yang pernah kita lakukan, tidak ada kata terlambat untuk menyongsong hari esok yang lebih baik,” pungkasnya. (kbc).

About kabarbabel 2062 Articles
Portal Berita Bangka Belitung Masa Kini

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.