Syarli : Kalau Dibiarkan Aset Bersejarah Babel Akan Hilang

*Kapal Ashigara yang Tenggelam Bakal Cagar Budaya dan Salah Satu Spot Diving Terbaik Babel‎

SUNGAILIAT – www.kabarbabel.com – Rencananya akan ada pengangkatan kapal perang tenggelam milik tentara Jepang yang akan dilakukan sebuah perusahaan sesuai izin Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI). Dengan alasan pembersihan alur pelayaran tersebut dinilai Emas Diving Club Bangka Belitung (EDC) Babel hanya akan mengakibatkan rusaknya aset Babel yang bernilai sejarah dan pariwisata.‎

Syarli Nopriansyah selaku Ketua EDC Babel mengutarakan pihaknya mengetahui rencana tersebut setelah mendapat data tentang keluarnya Surat Keputusan (SK) Kemenhub RI, Direktorat Kelautan terkait dengan kegiatan pembersihan alur pelayaran Muntok, Bangka Barat. Di dalam surat tersebut disebutkan pengangkatan, pembersihan bangkai kapal yang tidak termanfaatkan.

Pihaknya khawatir karena pada daerah itu ada salah satu spot menjadi pantauan dan dijaga selama ini. Pada tahun 2009 Emas Diving Club sudah melaksanakan pendataan bersama Balai Arkeologi Jambi. Situs tersebut mau dijadikan cadangan spot untuk Bangka Belitung, karena nilai sejarahnya sangat tinggi terkait dengan tenggelamnya Bangka kapal Ashigara.‎

“Kapal Ashigara tenggelam saat peperangan dengan tentara sekutu pada 8 Juni 1945 sehingga sejak tahun 1945 sudah ada di perairan Muntok. ‎
Yang kami khawatirkan ini adalah upaya pengambilan dari situs tersebut, bukan murni untuk pelayaran.‎ Dikarenakan peraturan perundang-undangan untuk wewenang kelautan ada di tingkat provinsi, diharap ada upaya dari pemerintah provinsi untuk mencegah jangan sampai pengangkatan tersebut terjadi,” jelasknya.

EDC memperoleh informasi dari masyarakat bahwa kegiatan pengangkatan saat ini sudah mulai ingin dilaksanakan. Apabila akan dilaksanakan maka selain Babel akan kehilangan aset yang sangat berharga, Indonesia pun akan mendapat protes dari Jepang atau dunia internasional karena ini adalah situs sejarah. 

“Badan Arkeologi Jambi dan Emas Diving Club telah melakukan survey terkait untuk menjaga cagar budaya. Kapal Ashigara apabila melihat di situs Internet telah terpampang informasi bahwa kapal tersebut ada di Bangka Barat panjangnya 200 meter lebih sehingga menjadi tugas bersama untuk menjaganya. Memang banyak dari masyarakat Bangka Belitung tidak mengetahui, namun apabila nanti tiba-tiba hilang dan diangkat dari posisinya maka Babel akan sangat rugi,” tegasnya.‎

EDC akan menanti apa upaya dari pihak provinsi, karena pada tahun 2012, zaman Bapak Yan Megawandi sebagai Kepala Dinas Pariwisata Babel yang sekarang adalah Sekda Babel sudah melirik untuk mengembang itu sebagai salah satu spot andalan diving di Babel.‎ Kapal tersebut dari nilai sejarah dan keadaannya masih bagus apabila diperhatikan dan dikembangkan menjadi spot diving.

“Nanti banyak para penyelam seluruh Indonesia dan luar negeri akan banyak datang untuk melihat spot tersebut. Kapal yang telah karam sejak tahun 1945 tersebut bukan lah kapal biasa tetapi kapal perang sebagai salah satu kebanggaan tentara laut Jepang. Nama kapal tersebut dalam catatan sejarah merupakan salah satu nama gunung di Jepang. Kapal perang tersebut berlayar dari Batavia yang saat itu pusat pemerintahan, mereka hendak ke Singapura. Ada sebanyak 2 kapal namun saat perang 1 kapal tertembak hingga kemudian tenggelam di perairan Muntok,” kisahnya.

Kapal tersebut juga sempat dikunjungi oleh salah satu cucu dari kapten kapal yang tenggelam dan sempat didampingi mantan Ketua EDC Babel, Almarhum H. Sakinawa.‎ Selama ini untuk menjaganya EDC sering dilakukan komunikasi ke Badan Arkeologi di Jambi. Dari pemantauan pihaknya selama ini area tenggelamnya kapal itu tidak mengganggu pelayaran. 

“Apalagi sekarang untuk jalur pelayaran telah terkunci koordinatnya dengan peralatan yang ada. Saya rasa selama ini sejak tahun 45 pelayaran Muntok kan sudah sekian lama, tidak ada masalah. Kok tiba-tiba ada upaya pembersihan alur, lalu ada upaya mengangkat ini, ada ap?. Apakah mengganggu atau memang ada masalah lain. Ini aset berharga, ini harapan kami terakhir untuk dunia wisata bawah laut Bangka Belitung,” sebutnya.

Diterangkannya,‎ apabila berharap dari karang-karang yang ada untuk diving agak sulit kondisinya. Namun apabila diving pada kapal tersebut maka memiliki daya tarik karena telah memiliki nilai sejarah tinggi, ada keterkaitan dengan Jepang dan telah diakui Jepang. Sehingga apabila diangkat dengan alasan pembersihan jalur laut maka patut dipertanyakan.

Dalam ini ia juga mempunyai pikiran,‎ mungkin pihak provinsi tidak mengetahui hal ini karena SK dikeluarkan dari pusat. Ia harap dari pemberitaan media dapat dibaca oleh petinggi dari Provinsi Babel bahwa aset yang tidak tampak di permukaan karena posisinya di bawah permukaan laut itu sangat lah berarti. 

“Kita gak punya aset terlalu hebat, kalau rumah adat, rumah cagar budaya saja kita sulit, ini sudah dipersiapkan untuk cagar budaya dokumennya bersama Badan Arkeologi Jambi. Penyiapan dokumen kapal tersebut untuk cagar budaya bersama Badan Arkeologi memang belum final namun sedang dalam proses sejak tahun 2009. Kita terus menjalin komunikasi dengan Balai Arkeologi Jambi yang menilai bangkai kapal Ashigara layak jadi cagar budaya,” imbuhnya.‎

Ditambahkannya, dokumen mengenai SK pengangkatan dan pembersihan jalur pelayaran Muntok yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan melaui Dirjen Perhubungan Laut. Dalam SK Nomor : KL.303/4/15/DN-15. Disebutkan tentang Izin Kegiatan Salvage Kerangka Kapal Kepada PT. Karya Benda Raya. 

SK tersebut dikeluarkan berdasarkan surat permohonan PT. Karya Benda Karya Nomor 006/KBR-SPK/X/2016 tanggal 3 Oktober 2016.
Perusahaan di Kota Bitung itu akan melakukan pengerjaan di Perairan Muntok Bangka untuk kegiatan salvage berupa pembersihan alur pelayaran melalui pengangkatan dan penyingkiran kerangka kapal (wreck removal) yang tenggelam dan terbengkalai. 

Rencana pengerjaan pada koridor sekitaran koordinat 1. 001″45″04.98″S/105″04.29.98″E, 2. 001″50’00.00″S/104″56″‘00.00″E, 3. 002″08’14.34″S/105″05’11.38″E, 4.002″08’23.58″S, 4. 002″08’23.58″S, 5. 002″12’52.86″S/105″19″01.50″E. Menggunakan kapal kerja dengan nama  KM. KBR Benoa 1 Eks. Hai Hong Gong 1, Bendera Indonesia, GT/NT 3341/1103, Call Sign YBCS2, Capt/Crew Abdullah Suwandi/12. Kapal kerja lainnya, OS KBR Survey Eks Hai Hong Gong-1, Bendera Indonesia, GT/NT : 90/27, Call Sign YB-4966, Capt/Crew Deddy Yusuf/6. Dengan kewajiban umum pemegang kegiatan adalah mendapatkan cleareance in dan cleareance out atas kapal kerja yang digunakan dari Syahbandar. (vna).

About kabarbabel 2040 Articles
Portal Berita Bangka Belitung Masa Kini

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.