Orang Tua Korban Cabul Akan Kawal Sidang Terdakwa di Pengadilan

(foto : ilustrasi/net)

PANGKALPINANG – www.kabarbabel.com, Sidang tertutup perkara kasus pencabulan murid SD IT Al Qudwah oleh tenaga pendidiknya, Imam Masrufin (38) digelar Pengadilan Negeri Pangkalpinang, Rabu (29/3/2017). Agenda sidang mendengarkan saksi pihak korban diwarnai kedatangan orang tua serta para murid SD IT Al Quwdah.

Bertindak sebagai majelis Hakim, Maju Purba SH dengan jaksa penuntut umum, Herlynita Endang Sastari. Tampak beberapa anak yang masih berusia dini berpakaian seragam sekolah berlarian dan bercanda di Kawasan Pengadilan Negeri Pangkalpinang. Sedangkan sejumlah orang tua menanti jalannya persidangan.

Pihak terdakwa hadir ke persidangan didampingi penasehat hukumnya, Junaidi. Kepada awak media Junaidi mengatakan, pihaknya akan melihat fakta di persidangan untuk melakukan pembelaan nantinya.

“Yang jelas di dalam dakwaan itu korbannya hanya satu sebagai saksi korban dan yang lainnya menjadi saksi. Nantinya juga hal-hal lain akan kami jelaskan dalam pledoi,” kata Junaidi.

Dalam sidang pertama pembacaan dakwaan, Imam Masrufin dituntut karena melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul terhadap korbannya.

Kejadiannya berlangsung beberapa kali saat jam pelajaran dilaksanakan di sekolah tersebut. Hingga akhirnya para orangtua korban melaporkan kejadian ini ke Kepolisian usai mendengar pengakuan dari anak-anaknya. Mantan Ketua Komite Sekolah SD IT Al Qudwah, Sayang Permata Sari yang turut hadir menyaksikan persidangan mengatakan,ada sekitar 13 korban dalam peristiwa ini. Cuma yang melaporkan secara resmi ada enam korban. Kejadian itu terbongkar setelah sejumlah anak-anak yang bersekolah di tempat tersebut bercerita satu per satu kelakuan terdakwa.

“Memang dia (Terdakwa) menetap di Asrama sekolah dan sekaligus sebagai Ketua Yayasan,” kata Sayang.

Kejadian saat jam pelajaran berlangsung di Asrama Siswi.Sekarang, anak-anaknya masih merasakan trauma akibat peristiwa pada akhir tahun 2016 lalu. Beberapa orang tua langsung memindahkan anak-anaknya dari sekolah tersebut. Hal ini diharap jadi pelajaran bagi seluruh orang tua.

“Orang yang kita percayai juga bisa melakukan hal ini, anak-anak kami menjadi takut untuk bersekolah. Padahal kami sudah berkomunikasi pada pihak sekolah untuk memberhentikan pelaku namun tidak digubris sehingga kami memilih pindah,” urainya.

Pihak korban ini bahkan mengakui pernah mendapatkan pernyataan dari anak-anak muridnya bahwa mantan gurunya itu tiba-tiba malam hari berada di dalam asrama. Para siswi terkejut ketika pelaku mencium dan meraba-raba daerah sensitif anak-anak, termasuk saat jam sekolah dan di asrama. Pihaknya akan terus memantau perkembangan kasus ini.

“Dari awal kita waktu masih jadi pengurus Komite Sekolah sudah memperjuangkan masalah ini, sampai saat ini pun kita tetap akan support hingga masalah ini selesai dan pelaku mendapatkan hukuman setimpal,” tutupnya. (smk/kbc).

About kabarbabel 2051 Articles
Portal Berita Bangka Belitung Masa Kini

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.