Di Beltim Ada Juga Hoax Penculikan, Awas Penyebar Hoax Bisa Kena UU ITE

MANGGAR – www.kabarbabel.com, Berita hoax atau berita palsu mengenai penculikan anak-anak juga merebak Kabupaten Belitung Timur (Beltim) beberapa waktu belakangan hingga sudah dianggap meresahkan. Bahkan banyak masyarakat, khususnya di kalangan ibu-ibu rumah tangga yang melarang anaknya untuk keluar rumah meski untuk keperluan les dan mengaji di TPA.

Berita hoax tersebut menyatakan jika di Kecamatan Manggar sudah terjadi tiga kali penculikan anak. Motif penculikan adalah untuk diambil organnya untuk dijual di pasar gelap. Tak sedikit akun facebook serta grup juga menampilkan keluh kesah status kehawatiran terjadinya penculikan.

Wakil Bupati Beltim, Burhanuddin mengakui jika dirinya pun sudah mendengar banyak masyarakat yang resah. Ia meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan adanya berita yang mengandung kebohongan khususnya terkait adanya penculikan anak.

“Isu-isu kayak gitu dak usah ditanggapi dulu, dak benar dak ada itu penculikan. Apalagi sampai ada yang terganggu aktivitasnya dak bisa sekolah, mengaji, les takut keluar rumah,” tegas Aan, sapaan Burhanuddin usai acara Pelaksanaan Pekan Panutan SPT tahunan Wajib Pajak di Aiditorium Zahari MZ, Rabu (22/3/2017).

Aan menghimbau agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan di lingkungan masyarakat. Jika ada isu seperti itu, masyarakat sebaiknya berkoordinasi dengan pihak keamanan atau aparatur desa.

“Hoax ini kan bukan hanya di Beltim, dari Jawa, Jakarta, Bangka dari mana-mana saya liat isu yang sama. Jika dengar hal seperti itu masyarakat harus dikoordinasikan dengan baik, di tingkat desa kan ada linmas, bhabinkabtimas, babinsa. Cek kebenaran dengan mereka,” kata Aan.

Hal yang sama diungkapkan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Beltim, Hartoyo menekankan masyarakat sebagai pengguna internet dan media sosial harus cerdas dalam merespon berbagai kabar dan berita yang ada di dunia maya. Tidak semua berita itu benar dan pantas untuk disebar luaskan kembali.

“Liat dulu sumbernya dari mana. Jangan langsung percaya, khususnya dari sumber yang tidak jelas. Apalagi dari mulut ke mulut terus kita sebarkan di media sosial, itu kan nanti bermasalah,” kata Hartoyo.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Beltim ini mengakui jika masih ada sebagian masyarakat yang belum bisa menyeleksi antara infomasi yang valid dan tidak bisa dipertanggung jawabkan. Selain itu, masyarakat juga belum paham bagaimana menjadi pengguna yang bijak dalam menggunakan media sosial.

“Bukan hanya di Kabupaten Beltim saja, kita di Kominfo juga diberikan tugas untuk memerangi berita hoax. Makanya kita harus bisa mendidik literasi masyarakat,” ujarnya.

Hartoyo juga menghimbau agar masyarakat jangan mudah menyebarkan berita hoax. Mengingat ada sanksi pidana yang suka iseng menyebarkan berita kabar burung tersebut.

“Pelaku Penyebar berita hoax bisa terancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Eektronik (ITE). Dalam pasal itu disebutkan ‘Setiap orang yang dengan sengaja atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkenan pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 milyar,” ungkapnya. (kbc).

About kabarbabel 2046 Articles
Portal Berita Bangka Belitung Masa Kini

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.