Beranda Belitung Limbah PT Foresta Diduga Bocor ke Aliran Sungai, Warga Minta Dibangun Water...

Limbah PT Foresta Diduga Bocor ke Aliran Sungai, Warga Minta Dibangun Water Get

46
BAGIKAN
Area perkebunan kelapa sawit PT Foresta. (Foto : Aldi/www.Kabarbabel.com).

TANJUNGPANDAN, www.kabarbabel.com – Perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Foresta Lestari Dwikarya disinyalir melakukan pencemaran limbah. Dugaan pencemaran limbah ini setidaknya kali ketiga dilakukan perusahaan yang berlokasi di Desa Kembiri, Kecamatan Membalong ini.

Indikasi adanya pencemaran limbah ini diketahui oleh beberapa warga desa setempat yang melihat ikan-ikan dan rerumputan di sepanjang aliran sungai mati. Peristiwa matinya ikan dan rerumputan tersebut sudah terjadi tiga kali ini, kamu kejadian terakhir dinilai menjadi yang paling parah.

Warga menduga pihak perusahaan tidak melakukan pengolahan limbah sesuai dengan ketentuan. Sehingga limbah bocor ke aliran sungai yang berhulu di kawasan perkebunan sawit tersebut.

Salah seorang anggota BPD Kembiri, Martoni menyebutkan pihaknya melaporkan penemuan warga ini ke jajaran Polsek Membalong dan Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLHD) Kabupaten Belitung. Namun warga merasa laporannya tersebut tak diindahkan.

“Saya pikir ini jangan sampai terjadi apa-apa, kami hubungi Kapolsek, hubungi BLHD. Kalau BLHD waktu itu pertama-tama itu memang kami salah tidak menyurati mereka kami hanya lewat telepon. Kan ada kejadian lagi sebelum ini dan hingga saat ini sudah 3 kali sebenarnya, namun tidak terlalu menyebar seperti sekarang ini,” kata Martoni kepada kabarbabel.com, Rabu (26/12/2018).

Martoni menambahkan, warga merasa tidak dipedulikan DLHD usai melaporkan temuan yang dinilai membahayakan masyarakat sekitar ini. Tak hanya sekali, ia menyebut warga sudah beberapa melaporkan pencemaran itu ke DLHD.

“Kami tidak percaya lagi dengan DLHD Kabupaten Belitung, kita sudah berapa kali melaporkan hal ini kesana tapi tak ada tindakan,” tambah Martoni.

Tak sampai disitu, warga akhirnya mengadukan perihal dugaan pencemaran limbah ini ke DPRD Kabupaten Belitung dan Bupati Belitung Sahani Saleh. Aduan tersebut ditanggapi orang nomor satu di Belitung dan para wakil rakyat dengan melakukan peninjauan ke perkebunan, Rabu (26/12/2018).

Setiba di lokasi, Sahani Saleh dan Ketua DPRD Kabupaten Belitung Taufik Rizani didampingi Wakil Ketua I Budi Prasetio dan anggota Komisi II mengecek pengolahan limbah. Bupati menilai harus ada peralatan yang bisa menghadang limbah agar tidak langsung jatuh ke aliran sungai.

“Dari segi peralatan untuk penyaluran limbah ini apakah terpasang atau tidak, efeknya ini limbah ini keluar, ditambah lagi adanya air hujan yang otomatis kapasitasnya itu tidak tertampung. Itulah kedepan kita berharap tadi pertama oke sudah perbaikan, peningkatan, kedua harus wanti-wanti persoalan musim hujan, ini kita ingatkan jangan seperti tahun kemarin sudah diingatkan, setiap musim hujan disini pasti debit air hujan meningkat, jadi harus dioptimalkan pengontrolannya,” kata pria yang akrab disapa Sanem.

Sanem mengharapkan pihak PT Foresta bergerak cepat untuk memperbaiki peralatan penyaluran limbah yang mengalir ke sungai. Terlebih pada musim hujan, debit air lebih banyak tumpah ke aliran sungai yang membawa limbah.

“Dibuatkanlah sesuai dengan tuntutan masyarakat. Seperti pembuatan water get itu,” tegas Sanem.

Manager PT Foresta Sugeng Prayitno mengatakan, pihak perusahaan berusaha merealisasikan keinginan masyarakat untuk membangun water get. Bahkan saat ini, upaya pembangunan water get sudah dalam progress.

“Water get kita sudah dalam progress, sehubungan dengan kunjungan dewan dan bupati ini sudah kita sepakati titik yang akan kita bangun. Sementara saat ini perusahaan sudah memasukkan material untuk pembuatan water get tersebut,” kata Sugeng Prayitno kepada kabarbabel.com.

Terkait tudingan adanya pencemaran limbah, Sugeng membantahnya. Menurutnya tudingan tersebut tidak sesuai dengan data dan fakta yang ada. Terlebih dalam perizinan perkebunan sawit ini sudah dilengkapi AMDAL.

Ia menjelaskan, sampel air yang diambil sebelumnya masih berada di dalam kawasan perkebunan, bukan di luar kawasan perkebunan. Namun sampel yang diambil dari luar kawasan perkebunan, masih dalam ambang batas.

“Titik-titik yang diambil oleh dinas itukan titik-titik kordinatnya sudah ditentukan. Sedangkan masyarakat yang diambil ialah titik-titik yang ada di dalam wilayah pabrik sendiri,” ujarnya. (als).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here