Beranda Babel Angka Kemiskinan Beltim Turun

Angka Kemiskinan Beltim Turun

279
BAGIKAN
????????????????????????????????????

Kabarbabel.com– Angka Kemiskinan Kabupaten Belitung Timur Tahun 2017 menurun 0,18 persen dibanding tahun 2016 lalu. Setidaknya ada 40 orang penduduk yang lepas dari jurang kemiskinan.

Tahun 2017 ini angka kemiskinan mencapai 6,81 dengan jumlah penduduk miskin mencapai 8.440 orang. Tahun 2016 lalu, angka kemiskinan di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) mencapai 6,99 dengan jumlah penduduk miskin mencapai 8.480 jiwa.

Gambaran kemiskinan itu termuat dalam Potret Kemiskinan dan Ketimpangan Kabupaten Beltim Tahun 2017 yang dihitung oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Potret itu diserahkan oleh Kepala BPS Beltim, Oktarizal kepada Wakil Bupati Beltim, Burhanudin di Ruang Kerjanya, Jum’at (22/12/2017) lalu.

“Data kemiskinan itu kita hitung Bulan Maret 2017 lalu. Dengan sumber data dari Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional-red),” kata Okta kepada Diskominfo Beltim melalui pesan WA, Selasa (26/12/2017).

Selain persentase kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) juga turun 0,19 sama dengan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) yang turun 004. Menurut Okta, penurunan persentase itu lebih dipengaruhi oleh program bantuan pengentasan kemiskinan pemerintah.

“Indeks Kedalaman Kemiskinan adalah kesenjangan masing-masing pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan, jika bisa melewati artinya banyak yang sudah mampu. Kalau indeks keparahan kemiskinan itu ketimpangan diantara penduduk miskin itu sendiri,” jelasnya.

Di Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung, tercatat setidaknya 4 kabupaten kota yang mengalami penuruan angka kemiskinan, Kabupaten Beltim, Belitung, Bangka dan Kota Pangkalpinang. Sedangkan Kabupaten Bangka Barat, Tengah dan Selatan meningkat persentase kemiskinannya.

“Rata-rata persentase penduduk miskin di Provinsi Babel menurun 0,02 persen, menjadi 5,20. Meski di daerah lain di Pulau Bangka ada yang naik, namun persentase penduduk miskin di Kabupaten Belitung dan Beltim tetap termasuk yang tertinggi di Babel.

Meski angka kemiskinan menurun namun di satu sisi, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Beltim mengalami peningkatan. Tahun 2015 lalu, TPT Kabupaten Beltim 2,55 persen dan di tahun 2017, naik menjadi 2,62 persen.

“Yang tahun 2016 tidak kita hitung karena ada penghematan anggaran. Kalau TPT itu gambaran kondisi pada Agustus 2017, kalau perhitungan angka kemiskinan kondisi pada Maret 2017,” jelas Okta.

Menurutnya peningkatan TPT diperkirakan terjadi karena adanya musibah banjir pada Juli 2017 lalu. Ia pun berharap Pemkab Beltim dapat mencarikan solusi terbaik untuk korban banjir, baik bantuan ataupun lapangan kerja.

“Kalau pemerintah bisa menanggulangi warga yang terdampak banjir kemarin dan mereka sudah dapat pekerjaan lagi, Insyaallah tahun depan pas kita hitung bisa turun lagi,” ujar Okta yang didampingi Kepala Seksi Statistik BPS, Erin Trivoni.

Erin menambahkan biasanya angka kemiskinan dan tingkat pengangguran akan berjalan beriringan. Namun karena warga miskin diberikan bantuan yang bersifat konsumtif maka pendapatan mereka akan ikut bertambah.

“Bisa dikatakan mereka hanya dikasih ikannya, bukan diberikan kailnya. Terus juga pantauan kita di lapangan, kondisi ini terjadi karena orang tua kaya, banyak anaknya jadi gak mau kerja,” beber Erin.

Menanggapi kondisi ini, Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Kabupaten Beltim, Burhanuddin mengatakan akan terus mengupayakan agar penurunan angka kemiskinan berimbas dengan tingkat pengangguran. Pemerintah pun dituntut kerja lebih keras lagi.

“Dinas teknis harus kerja lebih keras untuk melihat persoalan-persoalan kemiskinan di daerah secara keseluruhan. Jika dibiarkan berlarut-larut ini akan menjadi bom waktu,” kata Aan sapaan Burhanuddin.

Menurutnya investasi yang masuk dengan harus diimbangi dengan tingkat kemampuan sumber daya manusia lokal. Sehingga putra-putri daerah mampu bersaing terhadap kebutuhan investasi yang ada di dunia kerja.

“Semuanya harus seimbang. Kalau kita dak siap dengan sumber daya manusia kita sendiri, itu lebih parah,” ujarnya.

Mantan Kepala Bappeda Kabupaten Beltim itu mengungkapkan hampir di seluruh desa, jumlah tingkat pengguran tinggi. Ditambah lagi investasi yang masuk dak mampu menyerap keseluruhan tenaga lokal.

“Kemampuan SDM kita banyak yang masih di bawah standar kebutuhan investasi. Makanya nanti awal tahun ini saya minta dinas terkait untuk mencari solusi terbaik,” tukasnya. (ril/dei)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here