Beranda Opini Opera Gaduh Bau Singkong, Enak Pejabat, Tak Enak Masyarakat?

Opera Gaduh Bau Singkong, Enak Pejabat, Tak Enak Masyarakat?

83
BAGIKAN

Heru Sudrajat (Wartawan www.kabarbabel.com)

MASYARAKAT sibuk dan geram dengan menebarnya bau olahan singkong pabrik sebelah yang sangat mengganggu sekali dalam kehidupan sehari-hari. Wajar jika warga masyarakat yang tinggal diseputar pabrik pengolahan singkong protes keras.

Tidak saja itu, masyarakat yang jauh dari lingkungan pabrik pun juga kena getahnya, menghirup tebaran seperti bau tai kucing. Namun sepertinya pemilik serta pembuat kebijakan di Bumi Sepintu Sedulang ini diam saja.

Kita juga tidak tahu bagaimana dulunya program andalan pemerintah menganjurkan tanam singkong ini bisa dijalankan, sehingga muncul pabrik pengelohan singkong. Padahal kalau dipikir jernih, di zaman moderen seperti sekarang ini, kenapa yang masih diributkan soal singkong, tentunya sudah ketinggalan jaman.

Bukan persoalan ketinggalan jaman? Namun permainannya sehingga muncul lakon Opera Gaduh Bau Singkong. Masak sudah merdeka selama 72 tahun, masyarakat masih menghirup udara yang tidak mengenakkan?. Merdeka sih merdeka, namun ternyata kemerdekaan hanya dinikmati para peguasa dan pengusaha. Sedang rakyat tetap saja terjajah dan dalam kehidupan terengah-engah.

Nasib warga masyarakat ini, ibarat pepatah, sudah jatuh ketimpa tangga plus dikepung udara bau tai kucing. Sungguh lengkap penderitaan. Mungkin kita belum tahu, akibat tebaran bau dari pabrik pengolahaan singkong itu, rentan dengan penyakit pernafasan. Tunggu dulu, jangan berfikir negatif . Tapi berpikir jernih yang masuk akal.

Sebab dalam program andalan pemerintah KSR (Kebun Singkong Rakyat) kehadiran pengolahan pabrik singkong itu, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, agar ekonomi warga yang kekurangan dapat terdongkrak. Sehingga warga masyarakat Kabupaten Bangka bisa sejahtera dengan singkong.

Kalau toh jadinya seperti sekarang ini, berarti kecelakaan dalam berbisnis dilingkaran kondisi yang tidak menguntungkan. Untuk yang satu ini kita tidak dapat menjawab, karena begitu rumitnya permainan ‘Opera Singkong’ yang sudah dimainkan dan masyarakat tinggal menunggu ending dari cerita ini.

Kerumitan muncul, ketika terjadi benturan dan para pelakon mencoba untuk saling menjatuhkan dengan melibatkan pihak lain. Lalu dibuat adegan baru, untuk mengalihkan pokok cerita dalam opera singkong. Adegan pun dibuat sedemikian rupa sehingga muncul konflik bau lain yaitu “Bau ternak Bab 1”.

Amboy, begitu sentimentilnya sehingga masyarakat penonton, tertawa sampai sakit perut dan terharu melihat adegan yang begitu romantis. Romantis (rokok makan gratis). Memang kita harus akui ternak Bab 1 itu ada dan harus kita akui juga bau nya tidak enak. Tapi persoalannya sampai sejauh mana radius bau ternak Bab 1 itu menebar?. Kemudian yang perlu dipertanyakan sekarang ini. Mana duluan keberadaan ternak Bab 1 atau pabrik singkongnya yang berdiri? Toh dari dulu masyarakat tidak pernah disibukan dengan bau tai kucing.

Namun setelah adanya pabrik singkong, baru ribut masalah bau yang menebar kemana-mana? Kita juga tidak tahu kenapa lokasi pabrik juga d isitu dan siapa yang menetapkan pabrik disitu serta siapa yang memberi izin?. Itu sebenarnya yang perlu dipertanyakan.

Kalau memang perizinan ternak Bab 1 tidak ada, pemerintah harus tegas mengambil langkah menutup. Demikian juga, kalau pabrik singkong bermasalah, pemerintah juga harus tegas menutup. Toh hasil panen petani ubi masih bisa dialihkan ke pabrik lain. Pabrik pengolahan ubi di Bangka ini tidak hanya di satu tempat saja, tapi tempat lain masih ada. Masyarakat sudah bosan disuguhi permainan opera yang endingnya sudah bisa ditebak.

Masyarakat butuh tontonan segar yang membuat enak. Jangan hanya Enak di Pejabat, tapi tak Enak di Masyarakat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here