Beranda Feature Otoy Olah Limbah Kayu Jadi Barang Seni dan Bernilai

Otoy Olah Limbah Kayu Jadi Barang Seni dan Bernilai

110
BAGIKAN
Otoy saat mengolah kayu dengan mesin bubutnya. (Foto : www.kabarbabel.com)

SUNGAILIAT – www.kabarbabel.com, Otoy (37) warga Desa Air Ruai Kecamatan Pemali Kabupaten Bangka berhasil mengolah limbah tebangan beberapa jenis kayu menjadi barang berharga. Otoy telah menghasilkan kayu yang diolah dengan mesin bubut rakitannya menjadi gelondongan untuk senar/nilon pancing, asbak, toples, cangkir dan berbagai bentuk lainnya.

Ditemui di tempat ia mengolah kayu, Kamis (7/9/2017) Otoy ia menceritakan awalnya hobi memancing bahkan sempat melaut. Lalu karena kebutuhan gelondong pancing sering untuk dipakai maka ia berfikir untuk membuat gelondong pancing sendiri.

“Awalnya coba-coba iseng membuat gelondong pancing dengan mengunakan parang secara manual. Lama-lama kita berfikir bagaimana untuk mudah pengerjaannya,” kata Otoy.

Ia kemudian browsing di internet tentang cara merakit ‎mesin bubut yang secara bersamaan ada tawaran mesin air bekas dari temannya. Setelah dicoba dirakit, mesin bubut dari mesin air bekas itu hanya bertahan 2 minggu, karena besi As-nya kecil dan tidak kuat menahan beban.

Lalu ia kembali mencari cara baru dengan merakit mesin bubut menggunakan mesin robin 3 1/2 PK. Namun percobaannya pada mesin robin gagal karena tidak bisa diengkol akibat beban yang terlalu berat. Lalu ditemukan permasalahan pada bagian besi As yang kemudian diganti dengan As lebih besar hingga bisa beputar, namun menggunakan mesin robin menyebabkan biaya operasional mahal karena banyak menggunakan bahan bakar bensin.

Percobaannya mulai terlihat bagus untuk perakitan mesin ketika menggunakan mesin dinamo yang dipakai hingga sekarang. Mesin dinamo menggunakan listrik beserta besi dudukan yang juga dibantu mantan Kades Air Ruai Sabrul Jabil terlihat sebagai peralatan terbaiknya saat ini.

Produk Olahan Otot Woods dalam berbagai bentuk. (Foto: www.kabarbabel.com).

Kegiatan yang ia tekuni sekitar 2 tahun lebih ini kemudian dilakukan beberapa kali ujicoba menggunakan bahan kayu akasia, angsana hingga durian dan jelutung. Ia pun berkreasi membuat vas bunga, tempat bedak, tempat permen, piring, dan lainnya. Pemasaran sejauh ini dilakukan baru sebatas di Sungailiat secara sendiri.

Secara perlahan ia mengolah kayu yang dipotong sesuai ukuran yang dibutuhkan lalu dipasang pada penjepit mesin bubut. Sekilas kayu tersebut tampak tidak berguna karena hasil buangan. Setelah mesin bubut dihidupkan ia kemudian mulai mengukir kayu sesuai tujuan hendak dibuat barang apa. Mata pahat tajam pengukir kayu ia pesan dari Blitar yang saat pengerjaannya tampak membutuhkan kepiawaian agar mata pahat mengukir kayu sesuai keinginan.

Otoy tampak mulai terbiasa mengukir kayu yang diputar mesin bubut. Dalam hitungan tidak sampai setengah jam,1 gelondongan pancing kecil mampu ia selesaikan 1 buah. Gelondongan pancing rampung hingga sampai pengamplasan dan tampak halus.

Otoy menyatakan, jenis kayu yang memiliki kandungan serat banyak atau tidak, keras atau tidak terlalu keras sangat menentukan hasil olahannya. Hasil olahannya seperti gelondong pancing tersebut telah ditunggu oleh beberapa toko pancing di Sungailiat, yang mana selama ini sudah ratusan gelondong pancing ia lempar ke pasaran.

“Untuk gelondong pancing ini sudah pasti ada yang beli. Saya bawa 100, 100 itu dibayar Cash toko pancing. Sementara ini baru dari mulut ke mulut, kadang ada yang datang. Terkadang ada pesanan bubut kaki meja, gendang. Kalau saya pada dasarnya setuju saja, yang penting sesuai dengan modelnya, sesuai permintaan, gawe,” ceritanya.

Untuk bahan baku, ia mengaku sejauh ini belum ada kendala karena cukup banyak tersedia di Pulau Bangka. Bahkan kadang ia mengambil kayu bekas tebangan yang dibuang di tempat sampah. Kendala yang paling dihadapi saat ini adalah, ada beberapa peralatan belum ia miliki.

Sejauh ini ia sedikit demi sedikit menabung untuk meningkatkan alat bubutnya yang memang masih ingin disempurnakan. Ia mendambakan memiliki mesin bubut yang pabrikan agar lebih maksimal dalam mengolah kayu. Ia sempat mencoba mengajukan bantuan mesin bubut ke Desa Air Ruai namun belum diketahui disetujui atau tidak.

Selain itu untuk bangunan tempat ia mengolah kayu pun diharap kedepan lebih permanen sehingga benar-benar menjadi tempat workshop lebih layak. Ia pun membutuhkan alat pemotong atau circle cutter untuk mempermudah pengerjaan olahan kayunya.

“Karena kalau ada circle tinggal kita atur mau gimana motongnya, kayu pun kalau sudah dicircle hasilnya tetap bagus,” sebutnya.

Belajar Otodidak

Kemampuan mengolah kayu yang ia lakukan secara otodidak ini ia harap terus meningkat kedepannya nanti. Namun yang terpenting ia harapkan adalah bantuan seperti mesin bubut baik dari Pemda maupun pihak-pihak perusahaan. Dengan mesin bubut rakitannya ini, ia sudah menghasilkan belasan gelondong pancing setiap hari.

“Kalau la benar-benar siap nanti 20 an gelondongan pun bisa sehari. Untuk gelondongan diameter besar kulepas Rp 25 ribu, paling mahal biasa mangkok buah, toples dengan kisaran Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu lebih.

Ia mengaku tidak berani memasarkan lebih jauh atau di media sosial karena tidak bisa melayani pesanan. Untuk gelondongan pancing yang ia buat memiliki kelebihan karena dari segi ukuran, bentuk dan berat lebih cocok bagi nelayan di Pulau Bangka sehingga sangat diminati. Beberapa hasil olahannya sempat diminta pihak Desa Air Ruai untuk dipajang pada pameran Bangka Expo beberapa waktu lalu.

Barang-barang olahan Otoy yang diposting antara lain gelas, asbak, cangkir dan gelondong pancing. Hasilnya beberapa pengguna media sosial antusias bertanya dimana barang tersebut dibuat dan beberapa lainnya menyatakan tertarik ingin membeli hasil olahan Otoy yang bermimpi membuat brand olahannya menjadi “Otoy Woods” ini. (kbc).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here