Beranda Opini “Gerbong Baru Bupati di Pusaran Kegaduhan Hati”

“Gerbong Baru Bupati di Pusaran Kegaduhan Hati”

59
BAGIKAN
Heru Sudrajat

*Catatan Pendek Jelang Pemilukada Bangka 2018

Heru Sudrajat (Wartawan www.kabarbabel.com)

Jelang bulan Suci Ramadan, bupati Bangka “bersih-bersih gerbong” yang ditumpangi bawahannya. Dari tempat duduk (kursi) sampai ke warna cat gerbong sedikit diubah.

Semula warna cat merah, yang diharapkan mampu memberi semangat kerja, tapi yang muncul hanya sebuah kegaduhan yang tidak jelas warnanya. Jadi wajar jika terjadi gunjingan diluar, adanya tudingan bahwa gerbong bupati berjalan lambat dan kehilangan arah.

Bahkan sebagian penumpang yang sudah ditunjuk bupati untuk menduduki kursi, sepertinya kebingungan. Berdiri salah dan duduk lagi tidak enak. Sementara persoalan di dalam sendiri setiap hari bertambah yang tidak mungkin diselesaikan bupati sendiri.

Kita tidak tahu juga apakah diakhir jabatan bupati, hitungan maju beberapa bulan, tahun ini akan menuntaskan segala janji-janji pada waktu kampanye dulu, sehingga TENTRAM yang digenggamnya benar-benar bermakna bagi bawahan dan masyarakat Kabupaten Bangka.

Barangkali uji coba selama 3 bulan tidak memberi warna cerah dan nafas segar dalam lajunya pembangunan di daerah ini. Kegelisahan meraka wajar, karena kursi yang mereka duduki kurang pas, bahkan kebanyakan kursi sudah usang dan kendor skrupnya.

Jadi tidak mengeherankan ketika gerbong jalan, banyak suara sumbang didalam gerbong. Lalu muncul pertanyaan apakah dalam pergeseran kali ini, ada perubahan?.

Ada kesan tergesa-gesa dan kental dengan nuansa kegusaran. Sehingga ada yang terlupakan, dimana dalam deretan gerbong, ada satu gerbong yang barangkali lupa atau sengaja dilupakan untuk dibenahi. Seperti dibiarkan tanpa ada penggeseran ke gerbong vip, atau level naik satu tingkat.

Nampaknya barisan alumni sekolah pemerintahaan ini dibiarkan duduk rapi tanpa tersentuh sama sekali. Padahal jika dihitung-hitung mereka disekolahkan selama 4 tahun dengan biaya dari negara. Untuk membantu, menata perkembangan maju mundurnya satu pemerintahan.

Rasanya rugi besar negara mengucurkan dana ratusan juta untuk menyekolahkan mereka. Untuk itu perlu dipertanyakan apakah masih penting kita mengirim kader-kader daerah ini untuk menimba ilmu di sekolah pemerintahan?. Tentunya jawabannya membutuhkan waktu sedikit panjang, karena butuh seminar dan rembug ramai-ramai.

Atau mungkin para pemangku jabatan di bumi Sepintu Sedulang ini, memandang sebelah mata mereka? Atau dinilai mereka tidak mampu bekerja, sehingga tidak dibutuhkan lagi?.

Nah, jawabannya tergantung pada ketegasan serta keikhlasan dari orang nomor satu di Bangka ini, untuk memberi peluang mereka menduduki kursi empuk di gerbong yang baru saja dibenahi. Gerbong dengan susunan kursi-kursi baru sudah berjalan, meski yang menduduki kursi muka-muka lama yang hanya digeser-geser tempat duduknya.

Dan, terompet bunyi klakson tanda bergeraknya gerbong maju kedepan sudah meluncur. Tentunya kita semua berharap, agar gerbong baru bupati, dapat perjalan dengan normal serta bisa mengantarkan kita ketempat tujuan utama, yaitu terminal kemakmuran bagi penumpang kelas ekonomi yaitu masyarakat.

Kita semua juga sangat berharap, derit gerbong serta bunyi klakson tetap meninggi, ”Nguk-Nguk, Tuit-Tuit !, “ memberi semangat bekerja para bawahan bupati. Jangan sampai ditengah perjalanan bunyi klason jadi berubah lain, yaitu “Om tolilet! Om Tolilet!Om Tolilet!. (*).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here