Beranda Opini Refleksi Menyambut HUT Kota Sungailiat, Opera Badai (Badut Pasti Berlalu)

Refleksi Menyambut HUT Kota Sungailiat, Opera Badai (Badut Pasti Berlalu)

70
BAGIKAN
Heru Sudrajat

Oleh : Heru Sudrajat (Wartawan www.kabarbabel.com).

Nampaknya badai yang menerpa pemkab Bangka, terlalu kuat. Sehingga kerusakan yang terjadi agak susah untuk dibenahi, bahkan lebih celakanya terjadi amukan badai pasir beruntun menjelang persiapan hari jadi kota Sungailiat (ibukota Kabupaten Bangka).

Sungguh cobaan berat bagi punggawa-punggawa pemkab yang terkena imbasnya. Dari ruang pegawai sampai ruang kepala dinas, ruang sekda dan ruang bupati, tersapu badai, akibat pengerukan alur muara yang mungkin sedikit ada kesalahan teknis. Tapi akibatnya fatal, jika persoalan melebar.

Kita juga tidak tahu apakah masih ada tambahan kerusakan di ruang lain? Sebab ketika dihitung-hitung untuk membenahi kerusakan butuh, pemikiran jernih, ketabahan, anggaran dan tidak saling menyalahkan. Sungguh masyarakat dikejutkan dengan suara badai yang muncul, tanpa getaran maupun suara menggelegar, namun sangat terasa sekali.

Walaupun sebenarnya masyarakat sudah tahu siapa yang membawa badai dan siapa juga yang menciptakan badai? Sehingga menjadi obrolan ramai di warung kopi, santer bercerita tentang punggawa-punggawa pemkab yang kena getahnya. Belum lagi berita-berita di koran yang
sungguh membuat makan tidak enak dan tidur tidak nyenyak bagi yang terserempet.

Harus kita akui bahwa masyarakat kita, masyarakat santun dan tidak mau usil dengan urusan orang lain, meski sebenarnya masyarakat itu sendiri yang dirugikan. Kita juga tidak tahu, bagaimana nasib pelayanan publik. Nanti nya, jika memang benar-benar kerusakan susah untuk dibenahi, mengingat punggawa-punggawa itu merupakan Abdi Negara, Abdi Masyarakat. Kalau muncul pertanyaan antisipasi dari pemerintah bagaimana?

Persoalan yang satu ini, tidak butuh antisipasi. Karena sudah bertahun-tahun tenggelam dalam permainan ‘pat-pat gulipat’ siapa cepat siapa yang dapat. Tanpa berfikir panjang bahwa permainan itulah yang akhirnya melipat dirinya dalam persoalan amat berat. Ironisnya, satu persoalan belum tuntas muncul lagi persoalan lain yang pada akhirnya menyesakan dada.

Sungguh potret buram bagi pemerintah Kabupaten Bangka di tahun 2017. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Yang ada, hanya tidak adanya kejujuran serta keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. Kemudian posisi bupati saat dipilih memimpin Bangka, tidak dalam pusaran kondisi yang menguntungkan.

Kondisinya tidak menggembirakan dan banyak persoalan lama menumpuk yang kalau tidak dibersihkan menambah kotor dan menimbulkan penyakit yang obatnya susah dicari. Barangkali sudah waktunya dalam memperingati hari jadi kota tersayang ini, untuk melakukan
introspeksi diri. Merenung, melihat kebelakang, sejauh mana langkah yang sudah kita jalani.

Apakah diri kita sudah benar? Apakah sudah sempurna peduli terhadap rakyat? Atau memang ada yang dilupakan? Semua kembali kepada diri kita masing-masing untuk bersikap arif, bijak dalam membentuk bangunan kokoh yang bernama MARTABAT dan bukan MARTABAK.

Kita semua hanya dapat berdoa serta berharap, agar semua persoalan segera teratasi. Sehingga tidak ada gunjingan di masyarakat, terhadap petinggi-petinggi serta mantan petinggi bermain badai. Semoga Opera Badai usai, dan tidak ada lagi Badut yang berlalu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here