Beranda Opini “Orkes Singkong Pemilukada”

“Orkes Singkong Pemilukada”

42
BAGIKAN
Heru Sudrajat

Catatan Pendek Menuju Pemilukada Bangka

Oleh : Heru Sudrajat (Wartawan www.kabarbabel.com)

Dagang singkong dan kegiatan pemilihan kepala daerah, memang jauh berbeda. Meski sebenarnya ke duanya hampir sama BETI (beda-beda tipis). Kalau dagang singkong, tentunya harus nyari lahan, nyari bibit, ditanam dan nyari pembeli. Kemudian masih menunggu berbulan-bulan panen, baru bisa dijual. Belum lagi melihat hasil panen, bagus dan tidaknya singkong tetap menentukan harga.

Masih segar dalam ingatan kita semua, pemerintah Kabupaten Bangka menggalakkan tanam singkong bagi warga masyarakat. Bahkan tidak tanggung-tanggung beberapa pabrik pengelolahan singkong dibangun. Semua berebut menanam singkong. Dari bupati sampai ke tukang sapu Pemkab Bangka nanam singkong, sehingga muncul paradigma bupati akan menyingkongkan Bangka.

Tunggu, Jangan berfikir yang macam-macam dulu. Sebab untuk mengatasi seretnya ekonomi dan menjadikan Bangka tangguh dalam pangan, yang terpikir baru menanam singkong. Meski ironisnya sampai detik ini, belum pernah mendengar kabar segar tentang hasil singkong itu sendiri. Kita tidak tahu, kemana sembunyi greget dan semangat menanam singkong.

Semua tertutup dengan persoalan-persoalan yang ada didalam intern pemkab itu sendiri. Mungkin mereka sibuk dengan jalan-jalan ke luar kota, mumpung masih ada anggaran dinas luar kota dan sayang kalau tidak dihabiskan, meski dalam pertanggung jawabannya, sedikit membuat ribet. Atau mungkin sibuk menghadapi kasus-kasus yang muncul di luar perkiraan?. Jawabannya, tergantung pada mereka-mereka yang menentukan kebijakan di Bumi Sepintu Sedulang ini.

Meski kalau dipikir dengan jernih, lebih oke menanam singkong, dari pada mengeruk alur, yang pada akhirnya babak belur dan ada kemungkinan bisa pindah tidur.
Ada sesuatu yang tidak jelas dan kita tidak dapat saling menyalahkan, karena akan menambah kebisingan di dalam pemerintahan.

Kemudian apa bedanya dengan pemilukada Bangka?

Tentunya jelas berbeda, meski sama-sama mencari lahan untuk berkampanye, menebar bibit-bibit tebar pesona, agar nantinya banyak mendapatkan suara. Lalu mengukur hasil blusukan, berbulan-bulan dan menunggu hasil dari ‘cepika cepiki’, apakah mampu unggul dalam pemilukada Bangka nanti. Sungguh semua dapat dihitung dengan jari, yang mana masyarakat tidak lagi butuh visi misi, namun yang dibutuhkan keperluan sehari-hari.

Masyarakat sudah lelah mendengar nyanyian pelipur lara, yang pada akhirnya membuat lara (sakit). Masyarakat butuh bukti nyata dan bukan janji- janji manis. Kita hanya berharap para calon yang maju nanti mampu membangun Bangka dan bukan membangun dirinya dan keluarga serta teman-teman dekatnya.

Sebab yang memilih mereka bukan teman dekat atau keluarga, namun kemenangan mereka ditentukan suara-suara masyarakat. Jangan sampai calon yang terpilih nanti, semakin membuat Bangka tidak bergerak, bahkan semakin terpuruk. Jangan sampai juga bupati terpilih nanti tidak bisa mengolah singkong. Atau mungkin ada terobosan lain, tidak mengolah singkong lagi, tapi kelubi, semoga tidak jadi “Orkes Singkong Pemilukada”.

Yang tidak kalah menariknya jangan sampai sudah mengobok-obok lahan masyarakat dengan menanam singkong tapi hasilnya tidak tahu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here