Beranda Opini Bupati Baru?, Atau Baru Bupati?. (Catatan Pendek Menuju Pemilukada Bangka)

Bupati Baru?, Atau Baru Bupati?. (Catatan Pendek Menuju Pemilukada Bangka)

48
BAGIKAN
Heru Sudrajat

(Heru Sudrajat—Wartawan www.kabarbabel.com).

Sungguh judul diatas, tidak ada maksud untuk menyudutkan atau memberi pandangan yang sifatnya kurang percaya dengan bupati, namun hal yang wajar dan tidak perlu ditanggapi dengan serius. Biasa-biasa saja menjelang pemilihan kepala daerah, banyak berseliweran suara-suara  kebenaran, bahkan suara sedikit miring.

Namun inilah fakta yang terjadi di lapangan,  semua orang yang merasa dirinya kuat serta memiliki pengaruh besar di bumi Sepintu Sedulang ini (di luar incumben), menyatakan siap untuk maju mengikuti kompetisi berebut kursi nomor satu di Kabupaten Bangka.

Melihat fenomena yang terjadi, berarti mereka menginginkan bupati baru, wajah pemimpin baru yang mungkin diharapkan mampu membawa Bangka lebih baik kedepannya.

‎Tentunya untuk membawa Bangka lebih baik kedepan, tidak lah semudah membalikkan telapak tangan, karena walaupun terpilih menjabat bupati belum tentu secepat kilat menjadikan Bangka lebih baik.

Semua butuh kerja keras dan yang lebih utama bisa mengkoordinir bawahannya dengan baik. Dalam arti apa yang dimaui bupati, bawahannya cepat tanggap dan sesegera mungkin melakukan action.

Kemudian yang tidak kalah pentingnya, suara rakyat yang mengantarkan seseorang menjabat bupati. Hal itu menjadi sangat penting. Karena jangan sampai keberhasilan menang di pemilukada, akhirnya membuat masyarakat pemilih jadi kecewa, sakit hati, karena janji-jani sewaktu nyalon dulu, tidak terpenuhi, bahkan terlupakan.

‎Kalau dari kalimat-kalimat di atas itu belum bisa diakomodir bupati terpilih, rasanya berat bagi incumben untuk maju lagi mencalonkan diri. Jadi muncul pertanyaan-pertanyaan diluar, apakah bupati sekarang ini, sudah mampu mengkoordinir  bawahannya dengan baik?  Untuk menjawab pertanyaan itu, sangat berat untuk diucapkan.

Seperti pengakuan Tarmizi Saat sendiri, bahwa apa yang sudah diintruksikan ke bawahannya, belum semua dijalankan dengan baik. Bahkan ketika bupati mengajak lari pun, mereka para bawahan tidak bisa mengikuti dan yang lebih parah, ada yang jalan kaki, bahkan ada yang masih nongkrong minum kopi.

Belum lagi persoalan-persoalan lain yang muncul yang nyaris tidak bisa membuat tidur nyenyak seorang bupati.  Kepala Dinas diperiksa, Sekda diperiksa dan Bupati juga diperiksa. Sungguh gambaran buram bagi pemerintah Kabupaten Bangka. Sementara persoalan yang muncul didalam, bukannya membuat TENTRAM, namun semakin gaduh. Sepertinya, bupati jalan sendiri, wakil bupati berdiam diri dan sekda mencari langkah sendiri serta para SKPD bergerak tanpa terkendali.

‎Mencermati persoalan yang muncul, berarti di Kabupaten Bangka butuh Bupati baru. Semua tergantung pada diri kita masing-masing dalam menilai kerja bupati. Sebab dalam kompetisi pemilihan kepala daerah kedepan, incumben masih memiliki pamor kuat dan peluang untuk menang ada. Mungkin periode  5 tahun kemaren, merupakan kerja pemanasan bupati dan untuk periode selanjutnya bupati baru benar-benar bekerja?.

Mungkin bupati harus benar-benar cermat, jeli dalam memilih para bawahannya untuk membantu bekerja. Bukan berdasarkan teman  dekat atau hutang budi serta bawahan yang terampil menjilat.  Bupati harus bisa meredam kegaduhan didalam, sehingga tidak ada suara-suara sumbang dari para SKPD yang diluar tidak enak terdengar.

Bupati juga harus bisa menyaring suara pembisik-pembisik  orang dekat bupati, tanpa harus menelan mentah-mentah bisikan mesra yang membuat bupati terlena. Bupati harus tegas dan berwibawa. Dengan begitu akan mempermudah laju bergeraknya roda pembangunan di Kabupaten Bangka dan otomatis kesejahteraan warga masyarakat yang diimpikan akan terbukti. Nah, kalau itu yang muncul, itu baru Bupati. (*).


TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here